Skip to main content

Contoh Esai puisi “12 Mei, 1998” : Restorasi Jati Diri Pemuda 1928

oleh Nurbella Aprianti Rizkyna


Lupa terhadap sejarah itu dapat terjadi apabila sebuah bangsa tidak menghayati arti kemerdekaan. Tetapi ironisnya, zaman sekarang kata kemerdekaan seolah-olah telah berubah menjadi kata kosong yang tidak ada artinya. Anggapan itu terjadi ketika masyarakat benar-benar tidak menghiraukan ataupun menyalahgunakan arti kebebasan dalam konteks kemerdekaan.  

Membicarakan tentang pemuda, bangsa kita bersatu atas jerih payah para pemuda yang pantang menyerah berjuang untuk memerdekakan negara Indonesia. Pemuda merupakan generasi penerus harapan bangsa, yang diharapkan adalah mengaplikasikan arti kemerdekaan pada kehidupan sehari-hari, dengan berbagai kegiatan yang merujuk pada pembangunan bangsa. Tentu saja, rasa nasionalisme merupakan suatu modal dalam menjalankan tugas pembangunan tersebut. Mahasiswa yang berperan sebagai pembangun bangsa, sudah selayaknya sadar akan hal yang dicita-citakan oleh para pemuda tahun 1928, dengan meneruskan perjuangannya demi tanah air.

Dalam hal revolusi kemerdekaan Indonesia, Bode Riswandi menjabarkan secara gamblang dalam beberapa karyanya, baik naskah drama, maupun puisinya. Karya-karya Bode mencerminkan tentang kepekaannya terhadap sejarah. Seperti halnya yang tertuang pada naskah drama yang berjudul ‘Jangan Menangis Indonesia’, karya Putu Wijaya. Pada tanggal 21 Juli 2006 di Tasikmalaya, Bode mempersembahkan sebuah ‘Kado Kecil Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan’.

Dalam naskah ini, jelas TI sangat asyik memainkan imajinasi. Imaji yang digunakan oleh TI adalah imaji visual dengan menggunakan imajinasinya sebagai subjek pengamat. Begitu pula dalam puisi ‘Takut ’66, Takut ‘98’, merupakan suatu penggambaran tentang peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jika kita jeli, dalam puisi tersebut TI sangat menginginkan jati diri pemuda 1928 terkuak sampai akhir zaman, yang hanya tidak berhenti pada tahun 1928. TI berharap kepada para pemuda khususnya mahasiswa, agar memiliki rasa nasionalisme tinggi, sehingga martabat bangsa terjungjung tinggi seperti halnya perjuangan pemuda pada tahun 1928 dalam mempersatu bangsa Indonesia.

Puisi-puisi Taufik Ismail sangat peka terhadap sejarah bangsa Indonesia. TI sering mengangkat tema tentang sejarah, maka tidak heran TI dikatakan sebagai penyair pencatat sejarah. Kepeduliannya terhadap sejarah sering disinggung sebagai topik utama dalam beberapa antologi puisinya, seperti pada antologi tunggal “malu (aku) jadi orang Indonesia”, “Tirani”, dan “Benteng”. Puisi-puisinya merupakan suatu bentuk protes terhadap permasalahan-permasalahan negara yang terjadi di Indonesia. Selain kepekaaannya terhadap sejarah, TI juga pernah menyatakan dalam kata penutup, akhir kalam (pada buku antologi tunggal “malu (aku) jadi orang Indonesia”), bahwa modal permasalahan pokok  atau substansi dalam puisi-puisinya merupakan suatu kenyataan, penindasan, penyesalan, angan-angan, kecongkakan, kelahiran, kematian, keasyikan, kelaparan, nyeri, tekad, ketidakpastian, kefanaan, dan cinta. Semua dia rangkum lewat sudut pandang yang berbeda. Kelihaian TI juga sering terlihat dalam pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan kata-kata yang sederhana dan tidak jarang pula TI menggunakan bahasa-bahasa asing yang menambah nilai estetika dalam beberapa karyanya, sehingga para pembaca dapat mencerna dan menikmati makna yang terkandung di dalam puisi-puisinya.

“ pah pah papah ambil ujian SIM lagi dong jangan malu-malu keluarga sampeyanniki karepe menang dewe piye to pak aing urang mah ari demokrasi terpimpin demokrasi terpimpin demokrasi pancasila sarua keneh ha rombak majelis buek pamarintah samantaro apo rasian anarki ko..........” (Demokrasi : 1998)

Pada hakikatnya kekuasaan berada ditangan kedaulatan rakyat, “kekuasaan itu berasal dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat”, sehingga presiden dan antek-anteknya hanya berperan sebagai pengatur yang menampung aspirasi rakyat. Oke, kita bisa buktikan pernyataan tersebut pada peristiwa Trisakti. Peristiwa Trisakti terjadi saat ribuan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar longmarch dari kampus Trisakti di Grogol, menuju Gedung DPR/MPR di Jakarta. Namun, baru sampai depan kampus, mereka sudah dihadang ratusan polisi bersenjata lengkap dengan posisi siap menembak. Meski dihadapkan dengan moncong sejata, pemuda-pemudi pemberani ini tak gentar. Mereka berdemonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya, karena Soeharto terlibat tindak pidana korupsi yang menyebabkan krisis ekonomi Indonesia goyah. Alhasil Soeharto pada akhirnya mundur dari jabatannya sebagai presiden RI.

” Presiden takut pada mahasiswa”

Pasca tragedi Trisakti, banyak provokator yang memacu amuk massa sehingga massa semakin membludak. Beberapa bangunan-bangunan dihancurkan dan dibakar. Sasaran kemarahan massa saat itu dilampiaskan kepada etnis Tionghoa dan China. Para mahasiswa dan aparat keamanan mencoba untuk mengendalikan massa, tetapi massa tetap tidak terkendali. Para provokator sengaja mengambil kesempatan didalam kesempitan. Dalam peristiwa Trisakti banyak mahasiswa yang gugur, ketika mengeraskan suaranya dalam mencari keadilan dan mengambil alih hak moneter bangsa Indonesia. Kita bisa lihat pada puisi “12 Mei, 1998”. /Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis airmata/ tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan/. Puisi tersebut merupakan sebuah puisi persembahan untuk mengenang Elang Mulya, Heri Hertanto, Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan yaitu mahasiswa yang gugur pada peristiwa Trisakti.

“Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang

Matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,”....




            Ironisnya, dewasa ini para pemuda dalam aksinya membangun bangsa sering salah kaprah, aksi dorong-mendorong yang berujung bentrokan fisik dengan aparat keamanan merupakan pemandangan yang lazim terjadi di depan gedung-gedung pemerintahan. Nah, maka dari itu para pemuda khususnya mahasiswa sudah seharusnya mengambil alih tugas untuk menertibkan stabilitas negara kita, negara Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Esai tentang Puisi Raksasa (Putu Wijaya) karya Bella Raffabani

Raksasa Metropolitan oleh Nurbella Aprianti Rizkyna Raksasa? Metropolitan? Sejak kecil, sosok raksasa sering didengar pada cerita atau dongeng yang diperdengarkan oleh emak sebelum tidur, untuk sekedar ‘nyingsieunan’ . Raksasa sering dikatakan sebagai sosok makhluk jahat, badannya tinggi, dan besar, serta memiliki wajah yang seram, katanya. Tetapi pada kenyataannya, definisi tersebut masih menjadi tanda tanya besar  tentang kemutakhirannya. Belum ada orang yang menyatakan secara pasti tentang gambaran sosok raksasa yang sebenarnya. Sosok raksasa sering hadir pada dongeng-dongeng atau pun cerita anak yang cenderung selalu menjadi tokoh antagonis dan pastilah anak kecil yang menjadi sasaran. Seperti pada kutipan puisi ‘Raksasa’ berikut ini, ‘Di dalam mimpiku ada raksasa Taringnya sebesar pohon kelapa Kepalanya gundul sekeras baja Dari Mulutnya menyembur kata-kata jahat.....’ Sehingga tak wajar ketika mengucapkan kata raksasa anak-anak sering ketakutan, tanpa mere...

PEPATAH EMAK/NASEHAT/MOTIVASI DIRI

  Kata Emak, jalani hidup itu yang biasa-biasa saja, karena yang penting itu hidup tenang dan damai. Meskipun hidup biasa-biasa saja kadang memang selalu direndahkan dan tak dihargai orang. Tapi awas jangan memaksakan kehendak dan kemauan yang bersifat konsumtif saja😉 Biaya hidup sama dengan gaya hidup. Kalau gaya hidup sudah tinggi, biaya hidup juga tinggi. Jadi gaji sebesar apapun kalau gaya hidupnya tinggi ya nggak akan cukup. Untuk itulah emak selalu bilang untuk selalu bersyukur dalam hal apapun kepada cucu-cucunya, termasuk kepadaku yang sampai saat ini omongan itu selalu aku pegang. Pernah suatu hari omongan itu benar-benar menjadi cermin di saat hari gajian tiba, aku dan temanku yang menerima gaji di tanggal yang sama selalu mengeluh dengan gaji yang dia terima. Padahal kalau mau dibandingkan dengan gajiku, gajiku masih jauh di bawah dia. Yah gaji dia lebih tinggi daripada gajiku. Tapi kenapa dia selalu mengeluh? Ternyata jawabannya karena duit dia habis untuk ini dan itul...

Naskah Drama "TOPENG " karya Bella Raffabani

       Setelah layar dibuka, tampak seorang pria dengan tatapan yang kosong sedang duduk dengan tangannya yang terikat, di depan pria yang memakai topeng . Sesekali orang tersebut menangis, lalu terdiam dan menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pria bertopeng mengangkat pistolnya sambil berteriak lalu ia menembak pria yang sedang duduk tersebut. Setelah itu suasana menjadi hening dan tirai ditutup kembali. BABAK   I ADEGAN 1        Di sebuah ruang interogasi, tepatnya di kantor polisi , tampak 2 orang polisi yang sudah siap untuk mendengarkan seorang lelaki yang hendak ingin membuat kesaksian. Beberapa foto yang menjadi bukti berserakan di meja. Kusuma Baiklah, kami akan mendengarkan kesaksian anda. Herman Iya pak. Jadi begini, Tepatnya malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, ketika saya ingin pergi ke swalayan untuk membeli makanan, tiba-tiba saya melihat seorang wanita dan seorang anak y...