oleh Nurbella Aprianti Rizkyna
Lupa
terhadap sejarah itu dapat terjadi apabila sebuah bangsa tidak menghayati arti
kemerdekaan. Tetapi ironisnya, zaman sekarang kata kemerdekaan seolah-olah
telah berubah menjadi kata kosong yang tidak ada artinya. Anggapan itu terjadi
ketika masyarakat benar-benar tidak menghiraukan ataupun menyalahgunakan arti
kebebasan dalam konteks kemerdekaan.
Membicarakan
tentang pemuda, bangsa kita bersatu atas jerih payah para pemuda yang pantang
menyerah berjuang untuk memerdekakan negara Indonesia. Pemuda merupakan
generasi penerus harapan bangsa, yang diharapkan adalah mengaplikasikan arti
kemerdekaan pada kehidupan sehari-hari, dengan berbagai kegiatan yang merujuk
pada pembangunan bangsa. Tentu saja, rasa nasionalisme merupakan suatu modal
dalam menjalankan tugas pembangunan tersebut. Mahasiswa yang berperan sebagai
pembangun bangsa, sudah selayaknya sadar akan hal yang dicita-citakan oleh para
pemuda tahun 1928, dengan meneruskan perjuangannya demi tanah air.
Dalam hal revolusi kemerdekaan
Indonesia, Bode Riswandi menjabarkan secara gamblang dalam beberapa karyanya,
baik naskah drama, maupun puisinya. Karya-karya Bode mencerminkan tentang
kepekaannya terhadap sejarah. Seperti halnya yang tertuang pada naskah drama
yang berjudul ‘Jangan Menangis Indonesia’, karya Putu Wijaya. Pada tanggal 21 Juli 2006 di Tasikmalaya, Bode mempersembahkan sebuah ‘Kado Kecil Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan’.
Dalam
naskah ini, jelas TI sangat asyik memainkan imajinasi. Imaji yang digunakan
oleh TI adalah imaji visual dengan menggunakan imajinasinya sebagai subjek
pengamat. Begitu pula dalam puisi ‘Takut ’66, Takut ‘98’, merupakan suatu
penggambaran tentang peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jika kita jeli,
dalam puisi tersebut TI sangat menginginkan jati diri pemuda 1928 terkuak
sampai akhir zaman, yang hanya tidak berhenti pada tahun 1928. TI berharap
kepada para pemuda khususnya mahasiswa, agar memiliki rasa nasionalisme tinggi,
sehingga martabat bangsa terjungjung tinggi seperti halnya perjuangan pemuda
pada tahun 1928 dalam mempersatu bangsa Indonesia.
Puisi-puisi
Taufik Ismail sangat peka terhadap sejarah bangsa Indonesia. TI sering
mengangkat tema tentang sejarah, maka tidak heran TI dikatakan sebagai penyair
pencatat sejarah. Kepeduliannya terhadap sejarah sering disinggung sebagai
topik utama dalam beberapa antologi puisinya, seperti pada antologi tunggal
“malu (aku) jadi orang Indonesia”, “Tirani”, dan “Benteng”. Puisi-puisinya
merupakan suatu bentuk protes terhadap permasalahan-permasalahan negara yang
terjadi di Indonesia. Selain kepekaaannya terhadap sejarah, TI juga pernah
menyatakan dalam kata penutup, akhir kalam (pada buku antologi tunggal “malu
(aku) jadi orang Indonesia”), bahwa modal permasalahan pokok atau substansi dalam puisi-puisinya merupakan
suatu kenyataan, penindasan, penyesalan, angan-angan, kecongkakan, kelahiran,
kematian, keasyikan, kelaparan, nyeri, tekad, ketidakpastian, kefanaan, dan
cinta. Semua dia rangkum lewat sudut pandang yang berbeda. Kelihaian TI juga
sering terlihat dalam pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan kata-kata yang
sederhana dan tidak jarang pula TI menggunakan bahasa-bahasa asing yang
menambah nilai estetika dalam beberapa karyanya, sehingga para pembaca dapat
mencerna dan menikmati makna yang terkandung di dalam puisi-puisinya.
“ pah pah papah ambil
ujian SIM lagi dong jangan malu-malu keluarga sampeyanniki karepe menang dewe
piye to pak aing urang mah ari demokrasi terpimpin demokrasi terpimpin
demokrasi pancasila sarua keneh ha rombak majelis buek pamarintah samantaro apo
rasian anarki ko..........” (Demokrasi : 1998)
Pada
hakikatnya kekuasaan berada ditangan kedaulatan rakyat, “kekuasaan itu berasal
dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat”, sehingga presiden dan antek-anteknya
hanya berperan sebagai pengatur yang menampung aspirasi rakyat. Oke, kita bisa
buktikan pernyataan tersebut pada peristiwa Trisakti. Peristiwa Trisakti
terjadi saat ribuan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar longmarch dari
kampus Trisakti di Grogol, menuju Gedung DPR/MPR di Jakarta. Namun, baru sampai
depan kampus, mereka sudah dihadang ratusan polisi bersenjata lengkap dengan
posisi siap menembak. Meski dihadapkan dengan moncong sejata, pemuda-pemudi
pemberani ini tak gentar. Mereka berdemonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya,
karena Soeharto terlibat tindak pidana korupsi yang menyebabkan krisis ekonomi
Indonesia goyah. Alhasil Soeharto pada akhirnya mundur dari jabatannya sebagai
presiden RI.
” Presiden takut pada
mahasiswa”
Pasca
tragedi Trisakti, banyak provokator yang memacu amuk massa sehingga massa semakin
membludak. Beberapa bangunan-bangunan dihancurkan dan dibakar. Sasaran
kemarahan massa saat itu dilampiaskan kepada etnis Tionghoa dan China. Para
mahasiswa dan aparat keamanan mencoba untuk mengendalikan massa, tetapi massa
tetap tidak terkendali. Para provokator sengaja mengambil kesempatan didalam
kesempitan. Dalam peristiwa Trisakti banyak mahasiswa yang gugur, ketika
mengeraskan suaranya dalam mencari keadilan dan mengambil alih hak moneter
bangsa Indonesia. Kita bisa lihat pada puisi “12 Mei, 1998”. /Empat syuhada
berangkat pada suatu malam, gerimis airmata/ tertahan di hari keesokan, telinga
kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan/. Puisi tersebut
merupakan sebuah puisi persembahan untuk mengenang Elang Mulya, Heri Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan yaitu mahasiswa yang gugur pada peristiwa
Trisakti.
“Merah putih yang
setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
Matahari, tak mampu
mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,”....
Ironisnya, dewasa ini para pemuda
dalam aksinya membangun bangsa sering salah kaprah, aksi dorong-mendorong yang
berujung bentrokan fisik dengan aparat keamanan merupakan pemandangan yang
lazim terjadi di depan gedung-gedung pemerintahan. Nah, maka dari itu para
pemuda khususnya mahasiswa sudah seharusnya mengambil alih tugas untuk menertibkan
stabilitas negara kita, negara Indonesia.

Comments
Post a Comment