Tak ada sedikitpun kegembiraan terlintas dalam
sikapnya namun tatapannya yang sedikit kosong seperti memikirkan sesuatu yang entah apa itu, tetapi yang jelas saya merasa dia
mempunyai masalah, sehingga membuat aku berani menyapanya, yang sedang duduk di sudut ruangan seakan ia ingin
menjauhi keramaian.
“Hai !” ucapku sambil menghampiri gadis
itu.
Gadis itu hanya melirikku saja, tanpa
menjawab sepatah kata pun. Ya, dia hanya diam seperti mahabisu ketika aku
mencoba untuk menanyakan perihal apa yang membuat dia menjauh dari keramaian.
Berbagai cara aku lakukan, tetapi masih saja gadis itu lagi-lagi membalas dengan
senyuman yang seolah-olah melambangkan kerapuhannya. Sesekali dian menyeka air
matanya yang mengalir. Melihat sikapnya yang seperti itu, aku pun ikut terdiam.
***
Namanya Allisya, ia adalah gadis itu,
gadis yang termenung di tengah keramaian ketika orang-orang sedang menikmati
acara mahasiswa yang sering di selenggarakan di sebuah perguruan tinggi negeri
yang cukup terkenal. Aku mengetahui namanya dari salah satu adik tingkatku ketika
aku berada di kantin kampus.
Walaupun acara itu sudah 3 hari berlalu,
aku tetap saja teringat tentang gadis itu. Entah apa yang membuatku merasa
penasaran sehingga aku ingin mengetahui perihal apa yang membuat dia menjadi
seperti itu, meskipun aku berusaha untuk melupakan gadis itu. Toh apa gunanya
memikirkan masalah orang lain, masalah yang dimilikiku juga butuh untuk
dipikirkan, bisikku dalam hati sambil membereskan buku-buku yang telah selesai
aku baca. Lalu aku pergi ke kantin bersama temanku, namanya Sophia. Entah
kenapa juga, pada hari itu Sophia terlihat kesal karena mendapat sms dari nomor
yang tidak dikenal yang akhir-akhir ini sering ia dapatkan sejak acara
mahasiswa itu berlangsung.
“Aku tak habis pikir, apa manfaatnya
coba mengirim sms seperti ini, lagi pula aku tidak percaya bahwa pacarku
memiliki wanita lain selain aku.” Ucap Sophia sambil terus menggerutu, dan aku
hanya membalasnya dengan senyuman.
***
Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 08.00
aku sengaja datang ke Kampus, meskipun jadwal kuliahku nanti sore, tetapi aku
datang lebih awal dari teman-temanku karena ada buku yang harus aku cari di
perpustakaan kampus. Terkadang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri,
mengapa sekarang aku sering berada di perpustakaan padahal aku tidak teramat
suka membaca sejak masih dibangku SMA, meskipun aku dulu pernah sesekali ke
perpustakaan, itu juga hanya untuk berkunjung saja atau melepas lelah, karena
di perpustakaanlah aku bisa tenang, jauh dari kebisingan orang-orang. Tetapi,
oh tuhan... kali ini aku harus berusaha untuk menyukai perpustakaan, karena di
tempat itulah aku bisa menemukan solusi atas permasalahan seputar pembelajaran.
Dengan teliti aku mencari buku yang aku
butuhkan. 20 menit pun berlalu, aku masih belum menemukan buku yang aku cari,
maklumlah buku yang aku cari memang katanya sulit untuk ditemukan, karena
edisinya terbatas, dan mahal, atau mungkin saja aku masih harus bekerja keras
untuk terus mencari di rak-rak buku yang lainnya, karena memang perpustakaan
kampus terbilang cukup luas. Setelah lama mencari, akhirnya pandanganku
terhenti di sebuah meja, aku menemukan buku yang aku cari tepat di atas meja
yang berada di sudut perpustakaan itu, aku pun langsung mengambil buku
tersebut.
Aku terkejut, ternyata selain aku
menemukan buku yang aku cari, ternyata gadis itu, Allisya sedang duduk di sudut
perpustakaan, dan lagi-lagi dia sedang melamun dengan tatapannya yang kosong
memandang sebuah ponsel yang tepat berada di hadapannya. Kali ini aku tidak
menghampirinya atau bahkan menyapanya karena mungkin dia akan hanya membalas
dengan senyuman saja.
Aku duduk di kursi yang tepatnya berada
di sebelah kanan kursi yang di duduki Allisya, karena kebetulan tempat tersebut
jauh dari orang-orang sehingga mungkin aku akan konsentrasi ketika membaca.
Selang beberapa saat, Sophia mengirimku pesan bahwa dia akan datang ke
perpustakaan, karena kebetulan kami memiliki tugas yang sama.
Sudah 1 jam berlalu, tetapi Sophia tidak datang juga sampai tugas
pun dapat aku selesaikan. Karena tugas sudah terselesaikan dengan semangat aku
membereskan buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan dan menyimpannya kembali
ke rak buku, dan ternyata aku masih menemukan Allisya yang masih duduk di kursi
yang terletak di sudut perpustakaan, kali ini Allisya sedang mengetik pesan. Kemudian
setelah beberapa saat dia pun langsung pergi dengan tergesa-gesa, dan lagi-lagi
aku terdiam sesaat.
Perpustakaan memang sering kali
membuatku lapar. Tanpa berfikir panjang aku pergi ke kantin. Sesampainya di
sana, sekali lagi aku melihat Allisya sedang duduk di sudut kantin, sambil
sesekali dia menyeka air matanya, dan kali ini aku tidak hanya diam saja, kali
ini aku putuskan untuk menghampiri dia agar segala rasa penasaranku terjawab. Seperti
caraku waktu itu, aku menyapanya kali ini dia menjawab.
“Hai Allisya, namamu Allisya kan?!”
ucapku sambil duduk di sebelahnya.
“Iya, aku Allisya.” Jawabnya dengan
singkat.
Aku terdiam sesaat, dan aku putuskan
kali ini aku tidak boleh hanya diam saja, tetapi aku harus bertanya kepada
Allisya.
“Allisya, kenapa kamu menangis? apa yang
menyebabkanmu menangis?”. Beberapa pertanyaan aku lontarkan kepada Allisya.
Allisya hanya diam saja, beberapa saat
kemudian dia melihatku dan menjawab,
“Aku menangis karena....”
Tidak sampai selesai satu pertanyaan pun,
tiba-tiba dia beranjak dari kursi dan hendak pergi.
“Mau kemana kamu?” ucapku kepada
Allisya, tetapi Allisya terus berjalan dan meninggalkanku sambil terus
menangis, dan aku hanya terdiam saja.
Selang beberapa saat, ponselku berbunyi,
Sophia menelponku,
“Hei Sophia dimana kau? Aku dari tadi
menunggumu di perpustakaan, sekarang aku di kantin.” Ucapku. Tetapi Sophia
tidak bersuara. “Sophia? Halo Sophia?”.
Tiba-tiba Sophia menjawab dengan
tangisan,
“Sophia? Kamu kenapa?” ucapku dengan
cemas, tetapi Sophia tidak menjawab, dia hanya menangis saja.
Beberapa saat kemudian, setelah
perasaannya terkendali, perlahan Sophia menceritakan masalahnya, bahwa sebelum
memiliki hubungan dengan Sophia, pacarnya sudah memiliki pacar, dia baru
mengetahuinya tadi dari pernyataan seseorang yang tak lain adalah pacar dari
pacarnya sekaligus dia mengaku bahwa dialah yang selama ini mengirim sms itu.
Aku segera datang ke rumah Sophia untuk
melihat keadaannya, yang kebetulan berada di belakang kampus. Ketika sampai di
gerbang rumah Sophia, aku melihat Allisya keluar dari rumah Sophia, sambil
tersenyum kepadaku, aku membalasnya lagi dengan senyuman tanpa menyapanya lagi.
Lalu aku menghampiri Sophia yang sedang berada di dekat pintu.
“Dialah pacar dari pacarku.” Ucap Sophia
kepadaku sambil menatap dengan tatapan kosong.
Aku terkejut, dan kali ini aku
benar-benar harus terdiam.

Comments
Post a Comment