Skip to main content

Cerpen ALLISYA Karya Nurbella Aprianti Rizkyna, S.Pd.


       Tak ada sedikitpun kegembiraan terlintas dalam sikapnya namun tatapannya yang sedikit kosong seperti memikirkan sesuatu yang entah apa itu, tetapi yang jelas saya merasa dia mempunyai masalah, sehingga membuat aku berani menyapanya, yang sedang duduk di sudut ruangan seakan ia ingin menjauhi keramaian.

       “Hai !” ucapku sambil menghampiri gadis itu.

       Gadis itu hanya melirikku saja, tanpa menjawab sepatah kata pun. Ya, dia hanya diam seperti mahabisu ketika aku mencoba untuk menanyakan perihal apa yang membuat dia menjauh dari keramaian. Berbagai cara aku lakukan, tetapi masih saja gadis itu lagi-lagi membalas dengan senyuman yang seolah-olah melambangkan kerapuhannya. Sesekali dian menyeka air matanya yang mengalir. Melihat sikapnya yang seperti itu, aku pun ikut terdiam.

***

       Namanya Allisya, ia adalah gadis itu, gadis yang termenung di tengah keramaian ketika orang-orang sedang menikmati acara mahasiswa yang sering di selenggarakan di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal. Aku mengetahui namanya dari salah satu adik tingkatku ketika aku berada di kantin kampus.

       Walaupun acara itu sudah 3 hari berlalu, aku tetap saja teringat tentang gadis itu. Entah apa yang membuatku merasa penasaran sehingga aku ingin mengetahui perihal apa yang membuat dia menjadi seperti itu, meskipun aku berusaha untuk melupakan gadis itu. Toh apa gunanya memikirkan masalah orang lain, masalah yang dimilikiku juga butuh untuk dipikirkan, bisikku dalam hati sambil membereskan buku-buku yang telah selesai aku baca. Lalu aku pergi ke kantin bersama temanku, namanya Sophia. Entah kenapa juga, pada hari itu Sophia terlihat kesal karena mendapat sms dari nomor yang tidak dikenal yang akhir-akhir ini sering ia dapatkan sejak acara mahasiswa itu berlangsung.

       “Aku tak habis pikir, apa manfaatnya coba mengirim sms seperti ini, lagi pula aku tidak percaya bahwa pacarku memiliki wanita lain selain aku.” Ucap Sophia sambil terus menggerutu, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.



***

       Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 08.00 aku sengaja datang ke Kampus, meskipun jadwal kuliahku nanti sore, tetapi aku datang lebih awal dari teman-temanku karena ada buku yang harus aku cari di perpustakaan kampus. Terkadang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa sekarang aku sering berada di perpustakaan padahal aku tidak teramat suka membaca sejak masih dibangku SMA, meskipun aku dulu pernah sesekali ke perpustakaan, itu juga hanya untuk berkunjung saja atau melepas lelah, karena di perpustakaanlah aku bisa tenang, jauh dari kebisingan orang-orang. Tetapi, oh tuhan... kali ini aku harus berusaha untuk menyukai perpustakaan, karena di tempat itulah aku bisa menemukan solusi atas permasalahan seputar pembelajaran.

       Dengan teliti aku mencari buku yang aku butuhkan. 20 menit pun berlalu, aku masih belum menemukan buku yang aku cari, maklumlah buku yang aku cari memang katanya sulit untuk ditemukan, karena edisinya terbatas, dan mahal, atau mungkin saja aku masih harus bekerja keras untuk terus mencari di rak-rak buku yang lainnya, karena memang perpustakaan kampus terbilang cukup luas. Setelah lama mencari, akhirnya pandanganku terhenti di sebuah meja, aku menemukan buku yang aku cari tepat di atas meja yang berada di sudut perpustakaan itu, aku pun langsung mengambil buku tersebut.   

       Aku terkejut, ternyata selain aku menemukan buku yang aku cari, ternyata gadis itu, Allisya sedang duduk di sudut perpustakaan, dan lagi-lagi dia sedang melamun dengan tatapannya yang kosong memandang sebuah ponsel yang tepat berada di hadapannya. Kali ini aku tidak menghampirinya atau bahkan menyapanya karena mungkin dia akan hanya membalas dengan senyuman saja.

       Aku duduk di kursi yang tepatnya berada di sebelah kanan kursi yang di duduki Allisya, karena kebetulan tempat tersebut jauh dari orang-orang sehingga mungkin aku akan konsentrasi ketika membaca. Selang beberapa saat, Sophia mengirimku pesan bahwa dia akan datang ke perpustakaan, karena kebetulan kami memiliki tugas yang sama.

       Sudah 1 jam berlalu,  tetapi Sophia tidak datang juga sampai tugas pun dapat aku selesaikan. Karena tugas sudah terselesaikan dengan semangat aku membereskan buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan dan menyimpannya kembali ke rak buku, dan ternyata aku masih menemukan Allisya yang masih duduk di kursi yang terletak di sudut perpustakaan, kali ini Allisya sedang mengetik pesan. Kemudian setelah beberapa saat dia pun langsung pergi dengan tergesa-gesa, dan lagi-lagi aku terdiam sesaat.

       Perpustakaan memang sering kali membuatku lapar. Tanpa berfikir panjang aku pergi ke kantin. Sesampainya di sana, sekali lagi aku melihat Allisya sedang duduk di sudut kantin, sambil sesekali dia menyeka air matanya, dan kali ini aku tidak hanya diam saja, kali ini aku putuskan untuk menghampiri dia agar segala rasa penasaranku terjawab. Seperti caraku waktu itu, aku menyapanya kali ini dia menjawab.

       “Hai Allisya, namamu Allisya kan?!” ucapku sambil duduk di sebelahnya.

       “Iya, aku Allisya.” Jawabnya dengan singkat.

       Aku terdiam sesaat, dan aku putuskan kali ini aku tidak boleh hanya diam saja, tetapi aku harus bertanya kepada Allisya.

       “Allisya, kenapa kamu menangis? apa yang menyebabkanmu menangis?”. Beberapa pertanyaan aku lontarkan kepada Allisya.

       Allisya hanya diam saja, beberapa saat kemudian dia melihatku dan menjawab,

       “Aku menangis karena....”

       Tidak sampai selesai satu pertanyaan pun, tiba-tiba dia beranjak dari kursi dan hendak pergi.

       “Mau kemana kamu?” ucapku kepada Allisya, tetapi Allisya terus berjalan dan meninggalkanku sambil terus menangis, dan aku hanya terdiam saja.

       Selang beberapa saat, ponselku berbunyi, Sophia menelponku,

       “Hei Sophia dimana kau? Aku dari tadi menunggumu di perpustakaan, sekarang aku di kantin.” Ucapku. Tetapi Sophia tidak bersuara. “Sophia? Halo Sophia?”.

       Tiba-tiba Sophia menjawab dengan tangisan,

       “Sophia? Kamu kenapa?” ucapku dengan cemas, tetapi Sophia tidak menjawab, dia hanya menangis saja.

       Beberapa saat kemudian, setelah perasaannya terkendali, perlahan Sophia menceritakan masalahnya, bahwa sebelum memiliki hubungan dengan Sophia, pacarnya sudah memiliki pacar, dia baru mengetahuinya tadi dari pernyataan seseorang yang tak lain adalah pacar dari pacarnya sekaligus dia mengaku bahwa dialah yang selama ini mengirim sms itu.

       Aku segera datang ke rumah Sophia untuk melihat keadaannya, yang kebetulan berada di belakang kampus. Ketika sampai di gerbang rumah Sophia, aku melihat Allisya keluar dari rumah Sophia, sambil tersenyum kepadaku, aku membalasnya lagi dengan senyuman tanpa menyapanya lagi. Lalu aku menghampiri Sophia yang sedang berada di dekat pintu.

       “Dialah pacar dari pacarku.” Ucap Sophia kepadaku sambil menatap dengan tatapan kosong.

       Aku terkejut, dan kali ini aku benar-benar harus terdiam.

    

      

 

 

 

      

 

Comments

Popular posts from this blog

Esai tentang Puisi Raksasa (Putu Wijaya) karya Bella Raffabani

Raksasa Metropolitan oleh Nurbella Aprianti Rizkyna Raksasa? Metropolitan? Sejak kecil, sosok raksasa sering didengar pada cerita atau dongeng yang diperdengarkan oleh emak sebelum tidur, untuk sekedar ‘nyingsieunan’ . Raksasa sering dikatakan sebagai sosok makhluk jahat, badannya tinggi, dan besar, serta memiliki wajah yang seram, katanya. Tetapi pada kenyataannya, definisi tersebut masih menjadi tanda tanya besar  tentang kemutakhirannya. Belum ada orang yang menyatakan secara pasti tentang gambaran sosok raksasa yang sebenarnya. Sosok raksasa sering hadir pada dongeng-dongeng atau pun cerita anak yang cenderung selalu menjadi tokoh antagonis dan pastilah anak kecil yang menjadi sasaran. Seperti pada kutipan puisi ‘Raksasa’ berikut ini, ‘Di dalam mimpiku ada raksasa Taringnya sebesar pohon kelapa Kepalanya gundul sekeras baja Dari Mulutnya menyembur kata-kata jahat.....’ Sehingga tak wajar ketika mengucapkan kata raksasa anak-anak sering ketakutan, tanpa mere...

PEPATAH EMAK/NASEHAT/MOTIVASI DIRI

  Kata Emak, jalani hidup itu yang biasa-biasa saja, karena yang penting itu hidup tenang dan damai. Meskipun hidup biasa-biasa saja kadang memang selalu direndahkan dan tak dihargai orang. Tapi awas jangan memaksakan kehendak dan kemauan yang bersifat konsumtif saja😉 Biaya hidup sama dengan gaya hidup. Kalau gaya hidup sudah tinggi, biaya hidup juga tinggi. Jadi gaji sebesar apapun kalau gaya hidupnya tinggi ya nggak akan cukup. Untuk itulah emak selalu bilang untuk selalu bersyukur dalam hal apapun kepada cucu-cucunya, termasuk kepadaku yang sampai saat ini omongan itu selalu aku pegang. Pernah suatu hari omongan itu benar-benar menjadi cermin di saat hari gajian tiba, aku dan temanku yang menerima gaji di tanggal yang sama selalu mengeluh dengan gaji yang dia terima. Padahal kalau mau dibandingkan dengan gajiku, gajiku masih jauh di bawah dia. Yah gaji dia lebih tinggi daripada gajiku. Tapi kenapa dia selalu mengeluh? Ternyata jawabannya karena duit dia habis untuk ini dan itul...

Naskah Drama "TOPENG " karya Bella Raffabani

       Setelah layar dibuka, tampak seorang pria dengan tatapan yang kosong sedang duduk dengan tangannya yang terikat, di depan pria yang memakai topeng . Sesekali orang tersebut menangis, lalu terdiam dan menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pria bertopeng mengangkat pistolnya sambil berteriak lalu ia menembak pria yang sedang duduk tersebut. Setelah itu suasana menjadi hening dan tirai ditutup kembali. BABAK   I ADEGAN 1        Di sebuah ruang interogasi, tepatnya di kantor polisi , tampak 2 orang polisi yang sudah siap untuk mendengarkan seorang lelaki yang hendak ingin membuat kesaksian. Beberapa foto yang menjadi bukti berserakan di meja. Kusuma Baiklah, kami akan mendengarkan kesaksian anda. Herman Iya pak. Jadi begini, Tepatnya malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, ketika saya ingin pergi ke swalayan untuk membeli makanan, tiba-tiba saya melihat seorang wanita dan seorang anak y...