Skip to main content

CONTOH MAKALAH RELASI MAKNA

 

RELASI MAKNA

 

 

MAKALAH

 

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Semantik yang dibina oleh Bapak Jojo Nuryanto, M.Hum.

 

 

 

                                                                        Disusun oleh :

Kelompok 5 (Kelas 3B)

Rista Lela                                122121047

Rika Nurliani                          122121065

Nurbella Aprianti Rizkyna      122121066

Yuli Mulyani                          122121067

Rizal Sitatun Selo                   122121069

 

 

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SILIWANGI

TASIKMALAYA

2014




KATA PENGANTAR

       Puji syukur kehadirat Allah swt., yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan kita Nabi Besar Muhammad saw., kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, juga kepada kita selaku umatnya. Amin.

       Makalah ini berjudul “Relasi Makna”. Tujuan penyusunan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semantik yang dibina oleh Bapak Jojo Nuryanto, M.Hum.

       Makalah ini membahas tentang relasi makna. Yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini adalah pengertian dan cakupan relasi makna.

       Penyusun ucapkan terima kasih kepada yang terhormat Dosen mata kuliah Sosiolinguistik dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk mencapai kesempurnaan. Terakhir, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya  bagi pembaca. Amin.

 

Tasikmalaya, 10 Oktober 2014                                                                  Penyusun



DAFTAR  ISI

 

KATA PENGANTAR...................................................................................

i

DAFTAR ISI...................................................................................................

ii

BAB    I   PENDAHULUAN

 

           A.

Latar Belakang..........................................................................

1

           B.

Rumusan Masalah.....................................................................

2

           C.

Tujuan Makalah........................................................................

2

           D.

Kegunaan dan Manfaat Makalah.............................................

3

           E.      

Prosedur Makalah.....................................................................

3

BAB   II   PEMBAHASAN

 

           A.

Landasan Teoritis...................................................................

4

           B.

Bilingualisme..................................................................................

6

           C.

Diglosia..........................................................................................

10

           D.

Hubungan Bilingualisme dan Diglosia..........................................

16

BAB  III   PENUTUP

 

           A.

Simpulan...................................................................................

19

           B.

Saran.........................................................................................

20

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................

21

LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................

22

 


A.    Pendahuluan

       Pada zaman sekarang, semantik dianggap sebagai komponen bahasa yang tidak dapat dilepaskan dalam pembicaraan linguistik. Tanpa membicarakan makna pembahasan linguistik belum dianggap lengkap karena sesungguhnya tindakan berbahasa itu tidak lain daripada upaya untuk menyampaikan makna-makna itu. Ujaran-ujaran yang tidak bermakna tidak ada artinya sama sekali. Makna sebagai objek dalam studi semantik ini memang sangat sulit persoalannya, karena bukan hanya menyangkut persoalan dalam bahasa saja tetapi juga menyangkut persoalan luar bahasa. Faktor-faktor luar bahasa seperti agama, pandangan hidup, budaya, norma dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat turut meruwetkan persoalan semantik.

       Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran, sedangkan informasi adalah sesuatu yang di luar ujaran. Dalam mempelajari bahasa, seringkali timbul adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya.  Hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya itu sering disebut dengan relasi makna.

       Berdasarkan uraian di atas, maka timbul berbagai permasalahan tentang apa yang dimaksud dengan relasi makna?, dan bagaimana jenis-jenis relasi makna?, maka berdasarkan permasalahan tersebut, penulis dapat merumuskan makalah ini dengan tujuan agar mampu memahami tentang pengertian relasi makna dan jenis-jenis relasi makna, yang diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan pengetahuan dan disiplin diri khususnya bagi penulis, dan umunya bagi pembaca.

       Adapun prosedur dalam pembuatan makalah ini, sebelum menyusun makalah terlebih dahulu penulis membahas bagaimana menulis makalah yang baik dan benar serta mengamati dan mengidentifikasi kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah yang penulis buat. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan penulis membuat dan menyusun makalah dengan metode literatur yaitu teknik pengumpulan sumber-sumber bahan referensi dan studi pustaka.

A.    Pembahasan

       Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya.  Berikut ini merupakan jenis-jenis relasi makna:

 

1.      Sinonim

       Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu anoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Umpamanya kata buruk dan jelek adalah dua buah kata yang bersinonim ;bunga, kembang, dan puspa adalah tiga buah kata yang bersinonom; mati, wafat, meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim.

       Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Jadi, kalau kata bunga bersinonim dengan kata kebang kembang, maka kata kembang juga bersinonim dengan kata bunga. Begitu juga kalau kata buruk bersinonim dengan kata jelek. Kata jelek bersinonim dengn kata buruk.

       Pada definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa maknanya kurang lebih sama. Ini berarti, dua buah kata bersinonim itu, kesamaannya tidak bersifat mutlak (Zgusta 1971:141). Mengapa demikian? Mengapa tidak mutlak? Sebab seperti sudah disebutkan di muka, ada prinsip umum semantik yang mengatakan apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit.  Demikian juga kata-kata yang bersinonim, karena bentuknya berbeda maka maknanya pun tidak persisi sama. Jadi makna kata buruk dan jelek tidak persisi sama.

       Menurut teori Verhaar yang sama tentu adalah informasinya, padahal   informasi ini bukan makna karena informasi bersifat ekstralingual sedangkan makna bersifat intralingual. Atau kalau kita mengikuti teori analisis komponen yang sama adalah bagian atau unsur tertentu saja dari makna itu yang sama. Misalnya kata mati dan meninggal. Kata mati nemiliki komponen makna (1) tida bernyawa (2) dapat dikenakan terhadap apa saja ( manusia, binatang, pohon, dsb). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa. (2) hanya dikenakan pada manusia. Maka dengan demikian kata mati dan meninggal hanya bersinonim pada komponen makna (1) tidak bernyawa.Kerena itu, jelas bagi kita kalau Ali, kucing, dan pohon bisa mati; tetapi yang bisa meninggal hanya Ali. Sedangkan kucing dan pohon tidak bisa.

       Ketidak mungkinan kita untuk menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim adalah banyak sebabnya. Antara lain, karena;

a.       Faktor waktu.Misalnya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modern).

b.      Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok untuk digunakan dalan konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku) ; sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum di mana saja.

c.       Faktor Sosial. Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim; tetapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya yang tidak dapat digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi.

d.      Faktor bidang kegiatan. Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama Islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; dan kata mistik untuk semua agama.

e.       Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum; tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat dengan mata terbuka lebar: kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk melihat dari celah yang sempit.

       Dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa sinonim adalah persamaan kata atau kata-kata yang sama maknanya. Pernyataan ini jelas kurang tepat sebab selain yang sama bukan maknanya, yang bersinonim pun bukan hanya kata, tetapi juga banyak terjadiantara satuan-satuan bahasa lainnya. Perhatikan contoh berikut!

1)      Sinonim antar morfem (bebas) dengan morfem terikat, seperti antara dia dengan nya, antara saya dengan ku dalam kalimat

a)      Minta bantuan dia

b)      Minta bantuannya

c)      Bukan teman saya

d)     Bukan temanku

2)      Sinonim antar kata dengan kata seperti antara mati dengan meninggal: antara buruk dengan jelek.

3)      Sinoninm antara kata dengan frase atau sebaliknya. Misalnya antara meninggal dengan tutup usia, antara hamil dengan duduk perut.

4)      Sinonim antara frase dengan frase. Misalnya, antara ayah ibu dengan orang tua; antara meninggal dunia dengan pulang ke rahmatullah.

5)      Sinonim antara kalimat dengan kalimat, seperti Adik menendang bola dengan Bola ditendang adik. Kedua kalimat tersebut dianggap bersinonim, yang pertama kalimat aktif dan yang kedua lalimat pasif.

       Mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama tidak semuakata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya kata beras, salju, batu dan kuning. Kedua ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya kata benar bersinonim dengan kata betul; tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan. Ketiga, ada kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengeringkan; dan berjemur bersinonim dengan berpanas. Keempat ada kata-kata yang dalam arti “sebenarnya” tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti “kiasan” justru mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam makna “sebenarnya” tidak ada sinonimnya, tetapi dalam arti “kiasan” ada sinonimnya yaitu gelap, mesum, buruk, jahat dan tidak menentu.

 

2.      Antonim dan Oposisi

a.       Antonim

       Istilah antonimi (inggris: antonymy berasal dari bahasa yunani kuno onama = nama, dan anti=melawan). Makna harfiahnya nama lain untuk benda yang lain. menurut Verhaar (1983:133) mengatakan antonim adalah ungkapan (biasanya kata, tetapi dapat juga frasa atau kalimat) yang dianggap bermakna kebaikan dari ungkapan lain. secara mudah dappat dikatakan, antonim adalah kata-kata yang maknanya berlawanan.

       Antonim atau antonimi adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. Pertangan atau kontras antara yang satu dengan yang lain. misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup, kata guru berantonim dengan kata murid, dan kata membeli berantonim dengan kata menjual. Antonym juga dapat diartikan kata-kata yang bentuknya sama tetapi artinya berbeda.

       Hubungan antara dua satuan ujaran yang berantonim juga berhubungan dua arah. Jadi, kalau kata membeli berantonim dengan kata menjual maka kata menjual berantonim dengan kata membeli. Perhatikan bagan berikut ini!

Membeli 

Menjual

                                                                                                                                                                                                                                                                 

       Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonym itu dapat dibedakan atas beberapa jenis antara lain:

1)      Antonym bersifat mutlak. Umpamanya kata berantonim secara mutlak dengan kata mati, sesuatu yang hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya sudah tidak hidup lagi. Contoh lain, kata diam berantonim secara mutlak dengan kata bergerak, sebab sesuatu yang diam tentu tidak bergerak, dan sedang bergerak tentunya tidak sedang diam.

2)      Antonym yang bersifat relative atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecilberantonim secara relative; juga antara kata jauh dan dekat, dan antara gelap dan terang. Jenis antonym ini bersifat relative, karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditemmukan secara jelas; batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Karena itu sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil; dan sesuatu yang tidak dekat belum tentu jauh. Karena ini pula kita dapat mengatakan misalnya, lebih dekat, sangat dekat, atau juga paling dekat. Suatu objek dikatakan besar atau kecil dalam kehidupan kita adalah karena diperbandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.

3)      Antonym yang bersifat relasional. Umpamanya antara kata membeli dan menjual, antara kata suami dan istrri, dan antara kata guru dan murid. Antonym ini disebut relasional karena munculnya yang satu harus sisertai dengan yang lain. misalnya, adanya membeli karena adanya menjual, adanya suami karena adanya istri.

4)      Antonym yang bersifat hierarkial. Umpamanya tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial; juga antara kata gram dan kilogram. Antonym ini disebut hiererkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarkial.

       Di dalam bahasa Indonesia, mungkin juga terdapat dalam bahasa lain, ada satuan ujarana yang memiliki pasangan antonym lebih dari satu. Hal yang seperti ini lazim disebut antonym majemuk. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, dapat berantonim dengan kata tidur, dapat berantonim dengan kata tiarap, dapat berantonim kata bersila. Perhatikan bagan berikut!

Berdiri

Bersila

Jongkok

Tiarap

Tidur

Duduk

Berdiri

Bersila

Jongkok

Tiarap

Tidur

Duduk

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Contoh lain, kata diam yang dapat berantonim dengan kata berbicara, dengan bergerak dan dengan kata bekerja atau juga bertindak.

       Ada baiknya diingat bahwa istilah antonimi sebaiknya jangan dikacaukan dengan istilah antonomi. Istilah antonomi yang berasal dari kata yunani nomos=hokum dan anti=melawan. Istilah antonomi bukan istilah dalam bidang ilmu linguistic melainkan istilah yang digunakan di dalam bidang ilmu lain antonimi adalah pertentangan antar dua hukum. Verhaar (1983:134) membedakan antonim berdasarkan sistemnya sebagai berikut:

a)      Antonim antar kalimat, misalnya dia sakit dan dia tidak sakit.

b)      Antonim antar frasa, misalnya secara teratur dan secara tak teratur.

c)      Antonim antar kata, misalnya dalam bahasa ingggris terdapat kata thankful dan thankless.

b.      Oposisi

       Berdasarkan sifatnya, aposisi dapat dibedakan menjadi:

1)      Oposisi Mutlak

       Di sini terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya antara kata hidup dan mati. Antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang hidup tentu tidak (belum) mati; sedangkan sesuatu yang mati tentu sudah tidak hidup lagi.

2)      Oposisi Kutub

       Makna kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangannya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut, misalnya, kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan antara kaya dan miskain tidak mutlak orang yang tidak kaya belum tentu meras miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belum tentu merasa kaya.

       Kata-kata yang beroposisi kutub ini umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif, seperti jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah, terang-gelap, dan luas-sempit.

3)      Oposisi Hubungan

       Makna kata yang beroposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada. Umpamanya kata menjual beroposisi dengan kata membeli. Kata menjual dan membeli walaupun maknanya berlawanan, tetapi proses kejadiannya berlaku serempak.proses menjual dan proses membeli terjadi pada waktu yang bersamaan, sehingga bisa dikatakan tak akan ada proses menjual jika tak ada proses membeli.

       Kata-kata yang beroposisi hubungan ini bisa berupa kata kerja seperti mundur-maju, pulang-pergi, pasang-surut, memberi-menerima, belajar- mengajar, dan sebagainaya. Selain itu, bisa pula berupa kata benda, seperti ayah- ibu, guru-murid, atas-bawah, utara-selatan, buruh-majikan, dan sebagainya.

4)      Oposisi Hierarki

       Makna kata-kata yang beroposisi hierarkial ini mengatakan suatu deret jenjeng atau tingkatan. Oleh karena itu kata-kata yang beropossisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Umpamanya kata meter beroposisi hierarkial dengan kata kilometer karena berada dalam deretan nama satuan yang menyatakan ukuran panjang. Kata kuintal dan ton beroposisi secara hierarkial karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.

5)      Oposisi Majemuk

       Selama ini yang dibicarakan adalah oposisi diantara dua buah kata, seperti mati-hidup, menjual-membeli, jauh-dekat, prajurit-opsir. Namun, dalam pembedaharaan kata Indonesia ada kata-kata yang beroposisi terhadap lebih dari sebuah kata.

       Misalnya kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, dengan kata berbaring, dengan kata berjongkok. Keadaan seperti ini lazim disebut dengan kata istilah oposisi majemuk. Jadi duduk, berbaring, berdiri atau tiarap, dan berjongkok. Contoh lain, kata diam yang dapat beroposisi dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja.

 

3.      Homonim, Homofoni, dan Homografi

a.       Homonimi

       Berasal dari kata homonimy: Bahasa Inggris, dan homonim dari bahasa Yunani kuno yaitu kata”onoma”  yang berarti nama dan kata homos yang berarti sama. Jadi dengan kata lain mempunyai bentuk yang sama tetapi mempunyai arti yang berbeda.

       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:132), “Homonimi merupakan kata yang sama lafal dan ejaan tetapi beda makna.

     Verhaar (1983 : 135) mengatakan bahwa homonimi adalah ungkapan (kata atau frasa atau kalimat) yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan perbedaan makna di antara kedua (bahkan dalam Bahasa Indonesia tulisannya sama, lafalnya sama) tetapi berbeda maknanya.

       Sedangkan Lyons (1981: 146) berpendapat bahwa homonymsare two different woeds which are written identically and sound identical. (lihat juga Simpson, 1979:179, Jiri, 1969:50: Palmer 1976:67).

       Jadi dapat disimpulkan bahwa homonimi merupakan kata-kata yang bentuknya sama atau edintik, tetapi mengandung dua arti atau lebih yang berlainan. Secara singkat homonim adalah kata yang sama ejaan atau lafalnya tetapi mempunyai arti yang berbeda.

Misalnya:

a)      kata bisa berarti: racun ular, dapat, mampu, bisa.

b)      kata buku berarti: kitab, alat tulis-menulis, batas antara dua ruas.

Kiteria yang bisa dipakai untuk menenukan homonim:

a)      Kita dapat memakai kiteria makna. Kita harus meneliti dan membndingkan makna yang dimiliki kata-kata tersebut apakah masih ada hubungan makna antara kata kata itu. Jia masih ada berarti bentuk-bentuk tersebut bukan homonimi.

b)      Untuk menlusuri hubungan antara makna itu kita membutuhkan pengetahua etimologi kata kata yang diselidiki. Bagaimanakah sejarah timbulnya kata-kata itu. Apakah berasal dari kata yang sama atau tidak. Sebab, banyak kemungkinannya kata-kata yang digolongkan kepada bentuk bentuk homonimi sebenarnya adalah bentuk polisemi. Hal ini

c)       dapat terjadi justru ka

justru karena kekurangan pengetahuan kita terhadap etimologi kata-kata tersebut. Sebagai contoh dibawah ini dicantumkan beberapa kata yang bersifat homonimi :

a.       Kata kali yang berarti untuk menyatakan pergandaan atau perbanyakan.

b.      Kali yang berarti sungai.

       Disamping pada morfem tunggal (kata dasar) homonim terdapat juga pada kata jadian sebagai akibat ejaan yang bersifat  homograf. Misalnya” mengukur” (kata dasar ukur)dan mengukur (kata dasar kukur) ‘beribu” (kata dasar ribu) “beruang” (kata dasar uang) .

c.       Homograf

       Homograf adalah hubungan antara kata-kata yang berbeda makna tetapi sama tulisannya. Misalnya kata tahu yang berarti paham dan kata tahu yang berarti makanan.

       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:146), “Homograf dapat diartikan sebagai kata yang sama ejaannya dengan kata lain tetapi berbeda lafal dan maknanya seperti kata teras yang berarti inti kayu dan teras yang berarti bagian depan rumah”.

Misalnya:

1)      Kata Teras yang berarti serambi depan rumah.

2)      Kata Apel yang berarti berkumpul untuk melaksanakan upacara.

3)      Kata Apel yang berarti nama buah-buahan.

d.      Homofoni

       Homofoni merupakan hubungan antara kata-kata yang berbeda makna tapi sama lafalnya, contoh kata Bang dengan Bank dan pada kata tang yang berarti penjepit dan kata tank yang berarti kendaraan berat (tangki).

 

4.      Hiponimi dan Hipernimi

       Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti “di bawah’. Jadi secara harfiah berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain’. Secara semantik, Verhaar (1978: 137) menyatakan bahwa hiponim adalah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna statu ungkapan lain.

       Kalau relasi antara dua buah kata yang bersinonim, berantonim, dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi anatar dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Konsep hiponimi dan hipernimi mudah diterapkan pada kata benda tapi agak sukar pada kata verja atau kata sifat.

 

5.      Polisemi

       Polisemi berasal dari kata “Poly” mempunyai arti banyak, sedangkan “semi” mempunyai arti tanda. Jadi, Polisemi adalah kata yang mempunyai arti ganda baik arti leksikal maupun arti gramatikal. Makna dalam polisemi ini akibat perkembangan bahasa dan lingkungan medan makna yang bisa mengalami perubahan bentuk yang semakin luas, dengan kata lain makna itu mengalami perrluasan.

       Palmer (1976:65) mengatakan, “it is also the case that the same word may have a set of different meanings”, suatu kata yang mengandung seperangkat makna yang berbeda, mengandung makna ganda.

       Polisemi juga dapat diartikan sebuah kata atau satuan ujaran dan kata tersebut mempunyai makana lebih dari satu. Menurut kamus Linguistik Polisemi yaitu pemakaian bentuk bahasa seperti kata, frase dan sebagainya dengan makna yang berbeda-beda.

       Dapat ditarik kesimpulan, polisemi adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Karena kegandaan makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna kata yang didengar atau dibacanya.

       Proses timbulnya arti polisemi disebabkan sebagai berikut:

a.       Akibat pemakaian khusus: misalnya kata “bedah” mengandung arti leksikal : rusak, besar, sobek dan sebagainya. Bila kata bedah dipakai dalam ilmu kedokteran mengandung arti operasi (cara menyembuhkan penyakit) baik dengan jalan memotong, mengiris, menjahit dan sebagainya.

b.      Akibat pemakaian  dalam kiasan : misalnya “ kata membanting” mengandung arti leksikal: menggoncangkan ke bawah dengan keras. Tapi dalam hal ini timbul kiasan,

1)      Membanting tulang          : Membanting harga, membanting stir.

2)      Membanting tulang          : Mempunyai arti bekerja keras.

3)      Membanting harga           : Mempunyai arti menurunkan atau menaikkan harga.

4)      Membanting stir               : Mempunyai arti bekerja sebagai sopir.

       Arti ini akan jelas apabila kita memperhatikan kata-kata sekitarnya.

c.       Akibat pengambilan kata lama dalam bentuk kata baru, misalnya “kata pendeta” dan “Sarjana” arti leksikalnya orang yang pandai. Tapi sekarang pendeta merupakan sebutan kepada guru agama Kristen, begitu juga kata sarjana merrupakan title dari lulusan perguruan tinggi.

d.      Akibat pengaruh nilai rasa dan asosiasi, misalnya kata “sampah” arti leksikalnya mempunyai arti berkas-bekas dari kotoran. Tapi sekarang sampah mempunyai arti luas yaitu penjahat, perusak, jambret dan lain-lain.

       Sebab-sebab terjadinya Polisemi

1)      Kecepatan melafalkan kata, misalnya kata ban tuan dan bantuan. Apakah ban kepunyaan tuan, atau bantuan?

2)      Faktor Gramatikal, misalnya kata Orangtua dapat bermakna ayah/ibu, atau orang yang sudah tua.

3)      Faktor leksikal, sebuah kata yang mengalami perubahan pemakaian dalam ujaran yang mengakibatkan munculnya makna baru. Misalnya kata makan yang biasa dihubungkan dengan kegiatan manusia atau binatang, memasukan sesuatu ke dalam perut, tetapi kini kata makan dapat digunakan pada benda tak bernyawa sehingga muncullah urutan, pagar makan tanaman, dimakan api, dan yang lainnya. Contoh lain pada kata operasi, bagi seorang dokter dihubungkan dengan pekerjaan membedah bagian tubuh untuk menyelamatkan nyawa. Sedangkan bagi militer dikaitkan dengan kegiatan untuk melumpuhkan musuh atau memberantas kejahatan.

4)      Faktor pengaruh bahasa asing, misalnya kata rencana untuk menggunakan kata planning.

5)      Faktor pemakai bahasa yang ingin menghemat penggunaan kata. Maksudnya dengan satu kata, pemakai bahasa dapat mengungkapkan berbagai ide atau perasaan yang terkandung didalam hatinya. Misalnya ada kata mesin yang biasanya dihubungkan dengan mesin jahit. Manusia membutuhkan kata yang mengacu kepada mesin yang menjalankan pesawat terbang, mobil, motor, maka muncullah urutan kata mesin pesawat terbang, mesin mobil.

6)      Faktor pada bahasa itu sendiri yang terbuka untuk menerima perubahan, baik perubahan bentuk maupun perubahan makna.   

6.      Ambiguitas

       Menurut kamus linguistic ambiguitas (ambiguity) yaitu sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu tafsiran. Ambiguitas timbul dalam berbagai variasi ujaran atau bahasa tertulis. Kalau kita mendengarkan ujaran seseorang atau membaca sebuah tulisan, kadang-kadang kita sulit memahami apa yang diujarkan atau yang kit abaca. Misalnya kalau kita membaca atau mendengarkan ujaran orang, kita tidak memahami apa yang dimaksud dengan kata orang itu. Bermacam-macam tafsiran kita, misalnya apakah orang Gorontalo, apakah orang yang sedang mengalami kekuatan karena melihat orang, apakah orang yang sedang menjawab pertanyaan polisi lalu lintas karena salah jalan.

       Jadi Ambiguitas adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsure suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya “Anak istri kapten cantik.” Kita bingung, apakah yang dimaksud dengan ujaran ini? Apakah anak dan istri kapten yang cantik? Apakah anak, istri dan kapten semuanya cantik? Semuanya masih merupakan tanda Tanya pada kita. Keraguan, kebingungan mengambil keputusan tentang makna, dan keanekaan tafsiran makna seperti ini. Itulah yang disebut ambiguitas. Dengan kata lain, sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu tafsiran. 

a.       Jenis Ambiguitas

1)      Ambiguitas Tingkat Fonetik

       Ambiguitas pada tingkat fonetik timbul akibat membarunya bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan. Kadang-kadang karena kata-kata yang membentuk kalimat diujarkan secara cepat, orang menjadi ragu-ragu tentang makna kalimat yang diujarkan. Misalnya ada ujaran /membeli kantin/. Apakah yang dimaksud adalah membelikan Tin, atau membeli kanti?. Contoh lain yaitu dlam kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita mendengar ujaran bakmi. Apakah yang dimaksud adalah sejenis makanan yang disebut bakmi ataukah bak mi panggilan kepada seseorang.

       Untuk menghindarkan ambiguitas seperti ini, orang harus bertanya lagi kepada pembicara, dan memang inilah sikap yang sebaiknya dilaksanakan.

2)      Ambiguitas Tingkat Gramatikal

       Ambiguitas ini biasanya muncul pada satuan kebahasaan yang disebut kalimat atau kelompok kata. Dengan demikian ambiguitas pada tingkat gramatikal dapat dilihat dari 3 segi.

a)      Ambiguitas yang disebabkan oleh peristiwa pembentukan kata secara gramatikal. Di dalam bahasa Inggris misalnya ada awalan dan akhiran yang dapat menimbulkan makna ganda, bahkan kadang-kadang membingungkan. Misalnya akhiran –able dalam bahasa inggris tidak selamanya mengandung makna yang sama seperti pada bentuk-bentuk desirable, readable, eatable, knowable, debatable, sebab bentuk desirable dan readable tergolong kelas adjektiva, sedangkan eatable, knowable, dan debatable kebetulan hanya formatnya yang sama.

b)      Ambiguitas pada frasa yang mirip yang dikatkan Ullmann (1972:1958) equivocal pharsing, atau amphiboly (dari bahasa yunani amphi yang bermakna keuda sisi, dan ballein yang bermakna kain tutup). Tiap kata yang membentuk frasa, sebenarnya jelas tetapi kombinasinya dapat ditafsirkan lebih dari satu pengertian. Misalnya kalimat “ I meet a number of old friends and acquaintance,” saya bertemu dengan sejumlah temanlama dan kenalan. Kata old (lama atau tua) dalam kalimat ini dapat dihubungkan dengan friends (teman-teman) dan mana yang dimaksud dengan kata lama, apakah teman-teman ataukah kenalan-kenalan? Untuk menghindarkan ambiguitas seperti ini, perlu dilihat dari konteks atau unsur suprasegmental yang menyertainya.

c)      Ambiguitas yang muncul dalam konteks, apakah konteks orang atau konteks situasi. Misalnya kalimat minor “pergi!” apakah maksud kalimat ini? Orang bertanya : pergi kemana, dengan siapa pergi, pukul berapa pergi, menapa pergi, untuk apa pergti? Untuk menghindarkan ambiguitas pada konteks, orang harus mengetahui betul pada konteks apa seorang berbicara?.

3)      Ambiguitas Leksikal

       Telah dijelaskan bahwa setiap kata dapat saja mengandung lebih dari satu makna (Lyons I, 1977:38). Dapat saja sebuah kata mengacu pada sesuatu yang berbeda sesuai dengan lingkungan pemakaiannya. Misalnya orang mengujarkan bang yang mungkin mengacu kepada abang atau mengacu pada bank.

       Bentuk seperti ini disebut Polivalensi (polyvalency) yang dapat dilihat dari dua segi.

a)      Dikatakan oleh Breal (Ullmann, 1972:159) polisemi. Misalnya dalam BI kata mudah sebagai adjektiva yang bermakna, tidak memerlukan banyak tenaga atau pikiran dalam mengerjakannya, tidak sukar, tidak berat, soal ujian itu mudah.

b)      Kata-kata yang sama bunyinya tetapi maknanya berbeda. Misalnya dalam BI terdapat kata barang yang maknanya berbeda, seperti terlihat dalam kalimat, (i) banyak barang diturunkan dipelabuhan; (ii) berilah saya barang 1.000 rupiah. Makna barang pada kalimat pertama yakni benda yang diperdagangkan, sedangkan makna yang kedua, yakni sejumlah, sebanyak.

       Ambiguitas juga mempunyai arti gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsure suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya, /buku sejarah baru/ dapat ditafsirkan maknanya menjadi:

i.        Buku sejarah itu baru terbit

ii.      Buku itu memuat sejarah zaman baru.

       Kemungkinan makna 1 dan 2 itu terjadi karena kata baru yang ada dalam konstruksi itu, dapat dianggap menerangkan frase buku sejarah, dapat juga dianggap hanya menerangkan kata sejarah. Contoh lain pada ujaran anak dosen yang nakal juga bermakna ganda. Maknanya mungkin (1) anak itu yang nakal, (2) dosen itu yang nakal. Kedua makna itu karena tafsiran gramatikalnya tidak sama.

 

7.      Redundansi

       Istilah redundansi sering diartikan sebagai “berlebih-lebihan pemekaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujar”. Umpamanya kalimat Bola ditendang si Udin, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan bola ditendang oleh oleh si Udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang berlebih-lebihan, dan yang sebenarnya tidak perlu.

       Secara semantik masalah redundansi sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah bila bentuk berbeda maka maknanya pun akan berbeda. Selain itu, contoh yang lainnya seperti pada kalimat; ibu membuat kue, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan kue dibuat oleh ibu. Pemakaian kata oleh pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Contoh lain; petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan  petani sedang mencangkul kebunnya. Pemakaian kata sedang pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran, sedangkan informasi adalah sesuatu yang di luar ujaran. Jadi yang sama antara kalimat pertama dan kalimat kedua di atas bukan maknanya melainkan informasi.

 

B.     Simpulan dan Saran

       Relasi makna adalah hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya.       Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran, sedangkan informasi adalah sesuatu yang di luar ujaran. Dalam mempelajari bahasa, seringkali timbul adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya itu sering disebut dengan relasi makna.

       Saran ini ditujukan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa pada jurusan kebahasaan terutama bahasa Indonesia. Agar menjadi sumber informasi yang bermanfaat.

 

C.    Daftar Pustaka

Annur, Saperiah. (2013). Semantik Bahasa Indonesia. [online]

[tersedia] : http://nadiasidia.blogspot.com/2013/05/semantik-bahasa-indonesia-relasi-makna.html. [ 3 Oktober 2014].

 

Chaer, Abdul. (2003). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. (2006)Telaah Semantik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Falah, M. Zainal. (1996)Tatabahasa Indonesia. Yogyakarta: CV. Karyono.

 

Kridalaksana, Harimukti. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Pateda, Mansoer. (2001)Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Samsul. (2013). Relasi makna. [online]

[tersedia] : http://samsulpenulismuda.blogspot.com/2013/03/relasi-makna-homonimi-homofoni-homografi.html. [ 3 Oktober 2014].

 

Ullman, Stephen. (2011). Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Wahyu, Lizna. (2012). Bilingualisme dan Diglosia. [online]

[tersedia]: http://liznawahyu.blogspot.com/2012/12/bilingualisme-dan-diglosia.html. [17 September 2014].

 

 

 

 

 



 

































Comments

Popular posts from this blog

Esai tentang Puisi Raksasa (Putu Wijaya) karya Bella Raffabani

Raksasa Metropolitan oleh Nurbella Aprianti Rizkyna Raksasa? Metropolitan? Sejak kecil, sosok raksasa sering didengar pada cerita atau dongeng yang diperdengarkan oleh emak sebelum tidur, untuk sekedar ‘nyingsieunan’ . Raksasa sering dikatakan sebagai sosok makhluk jahat, badannya tinggi, dan besar, serta memiliki wajah yang seram, katanya. Tetapi pada kenyataannya, definisi tersebut masih menjadi tanda tanya besar  tentang kemutakhirannya. Belum ada orang yang menyatakan secara pasti tentang gambaran sosok raksasa yang sebenarnya. Sosok raksasa sering hadir pada dongeng-dongeng atau pun cerita anak yang cenderung selalu menjadi tokoh antagonis dan pastilah anak kecil yang menjadi sasaran. Seperti pada kutipan puisi ‘Raksasa’ berikut ini, ‘Di dalam mimpiku ada raksasa Taringnya sebesar pohon kelapa Kepalanya gundul sekeras baja Dari Mulutnya menyembur kata-kata jahat.....’ Sehingga tak wajar ketika mengucapkan kata raksasa anak-anak sering ketakutan, tanpa mere...

PEPATAH EMAK/NASEHAT/MOTIVASI DIRI

  Kata Emak, jalani hidup itu yang biasa-biasa saja, karena yang penting itu hidup tenang dan damai. Meskipun hidup biasa-biasa saja kadang memang selalu direndahkan dan tak dihargai orang. Tapi awas jangan memaksakan kehendak dan kemauan yang bersifat konsumtif saja😉 Biaya hidup sama dengan gaya hidup. Kalau gaya hidup sudah tinggi, biaya hidup juga tinggi. Jadi gaji sebesar apapun kalau gaya hidupnya tinggi ya nggak akan cukup. Untuk itulah emak selalu bilang untuk selalu bersyukur dalam hal apapun kepada cucu-cucunya, termasuk kepadaku yang sampai saat ini omongan itu selalu aku pegang. Pernah suatu hari omongan itu benar-benar menjadi cermin di saat hari gajian tiba, aku dan temanku yang menerima gaji di tanggal yang sama selalu mengeluh dengan gaji yang dia terima. Padahal kalau mau dibandingkan dengan gajiku, gajiku masih jauh di bawah dia. Yah gaji dia lebih tinggi daripada gajiku. Tapi kenapa dia selalu mengeluh? Ternyata jawabannya karena duit dia habis untuk ini dan itul...

CONTOH SURAT LAMARAN KERJA DAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP (CURICULUM VITAE)

A. SURAT LAMARAN KERJA Tasikmalaya , 23 Mei 2016 Kepada : Yth . Kepala PT. ............................ d i Tempat Dengan Hormat, Dengan ini saya membuat permohonan lamaran pekerjaan untuk menjadi karyawan di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin . A dapun data pribadi saya sebagai berikut :   n ama                                                           : .................... (Isi sendiri :D) t empat dan t anggal l ahir                            : ...................... , .................... (Isi sendiri :D) j enis k elamin        ...