RELASI MAKNA
MAKALAH
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Semantik yang dibina oleh Bapak Jojo Nuryanto, M.Hum.
Disusun oleh :
Kelompok 5 (Kelas 3B)
Rista
Lela 122121047
Rika
Nurliani 122121065
Nurbella
Aprianti Rizkyna 122121066
Yuli
Mulyani 122121067
Rizal
Sitatun Selo 122121069
PROGRAM STUDI BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt., yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan kita
Nabi Besar Muhammad saw., kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, juga
kepada kita selaku umatnya. Amin.
Makalah ini berjudul “Relasi
Makna”. Tujuan
penyusunan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semantik
yang dibina oleh Bapak Jojo Nuryanto, M.Hum.
Makalah ini membahas tentang relasi makna. Yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini
adalah pengertian dan cakupan relasi makna.
Penyusun ucapkan terima kasih kepada yang terhormat Dosen mata kuliah
Sosiolinguistik dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk mencapai kesempurnaan.
Terakhir, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Amin.
Tasikmalaya,
10 Oktober 2014 Penyusun
DAFTAR ISI
|
KATA
PENGANTAR................................................................................... |
i |
||||||||||||||||
|
DAFTAR
ISI................................................................................................... |
ii |
||||||||||||||||
|
BAB
I PENDAHULUAN |
|
||||||||||||||||
|
A. |
Latar
Belakang.......................................................................... |
1 |
|||||||||||||||
|
B. |
Rumusan
Masalah..................................................................... |
2 |
|||||||||||||||
|
C. |
Tujuan
Makalah........................................................................ |
2 |
|||||||||||||||
|
D. |
Kegunaan dan Manfaat
Makalah............................................. |
3 |
|||||||||||||||
|
E.
|
Prosedur
Makalah..................................................................... |
3 |
|||||||||||||||
|
BAB
II PEMBAHASAN |
|
||||||||||||||||
|
A. |
Landasan
Teoritis................................................................... |
4 |
|||||||||||||||
|
B. |
Bilingualisme.................................................................................. |
6 |
|||||||||||||||
|
C. |
Diglosia.......................................................................................... |
10 |
|||||||||||||||
|
D. |
Hubungan Bilingualisme dan
Diglosia.......................................... |
16 |
|||||||||||||||
|
BAB III PENUTUP |
|
||||||||||||||||
|
A. |
Simpulan................................................................................... |
19 |
|||||||||||||||
|
B. |
Saran......................................................................................... |
20 |
|||||||||||||||
|
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... |
21 |
||||||||||||||||
|
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................ |
22 |
||||||||||||||||
|
A.
Pendahuluan Pada zaman sekarang, semantik dianggap
sebagai komponen bahasa yang tidak dapat dilepaskan dalam pembicaraan
linguistik. Tanpa membicarakan makna pembahasan linguistik belum dianggap
lengkap karena sesungguhnya tindakan berbahasa itu tidak lain daripada upaya
untuk menyampaikan makna-makna itu. Ujaran-ujaran yang tidak bermakna tidak ada
artinya sama sekali. Makna sebagai objek dalam studi semantik ini memang sangat
sulit persoalannya, karena bukan hanya menyangkut persoalan dalam bahasa saja
tetapi juga menyangkut persoalan luar bahasa. Faktor-faktor luar bahasa seperti
agama, pandangan hidup, budaya, norma dan tata nilai yang berlaku dalam
masyarakat turut meruwetkan persoalan semantik. Makna adalah sesuatu yang fononema dalam
ujaran, sedangkan informasi adalah sesuatu yang di luar ujaran. Dalam
mempelajari bahasa, seringkali timbul adanya hubungan kemaknaan atau relasi
semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan
bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal
kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi
dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi),
kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau
satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya itu sering disebut
dengan relasi makna. Berdasarkan uraian di atas, maka timbul
berbagai permasalahan tentang apa yang dimaksud dengan relasi makna?, dan bagaimana
jenis-jenis relasi makna?, maka berdasarkan permasalahan tersebut, penulis
dapat merumuskan makalah ini dengan tujuan agar mampu memahami tentang
pengertian relasi makna dan jenis-jenis relasi makna, yang diharapkan dapat
menjadi acuan pengembangan pengetahuan dan disiplin diri khususnya bagi
penulis, dan umunya bagi pembaca. Adapun prosedur dalam pembuatan makalah
ini, sebelum menyusun makalah terlebih dahulu penulis membahas bagaimana
menulis makalah yang baik dan benar serta mengamati dan mengidentifikasi
kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah yang penulis buat. Selanjutnya,
pada tahap pelaksanaan penulis membuat dan menyusun makalah dengan metode
literatur yaitu teknik pengumpulan sumber-sumber bahan referensi dan studi
pustaka. A.
Pembahasan Setiap bahasa, termasuk bahasa
Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik
antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa
lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal
kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi
dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi),
kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Berikut ini merupakan jenis-jenis relasi
makna:
1.
Sinonim Secara etimologi kata sinonimi berasal
dari bahasa Yunani kuno, yaitu anoma yang berarti ‘nama’, dan syn
yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti ‘nama
lain untuk benda atau hal yang sama’. Secara semantik Verhaar (1978)
mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang
maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Umpamanya kata buruk
dan jelek adalah dua buah kata yang bersinonim ;bunga, kembang,
dan puspa adalah tiga buah kata yang bersinonom; mati, wafat,
meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim. Hubungan makna antara dua buah kata yang
bersinonim bersifat dua arah. Jadi, kalau kata bunga bersinonim dengan kata kebang kembang, maka kata kembang juga
bersinonim dengan kata bunga. Begitu juga kalau kata buruk bersinonim dengan kata jelek.
Kata jelek bersinonim dengn kata buruk. Pada definisi tersebut, dapat dikatakan
bahwa maknanya kurang lebih sama. Ini berarti, dua buah kata bersinonim itu,
kesamaannya tidak bersifat mutlak (Zgusta 1971:141). Mengapa demikian? Mengapa
tidak mutlak? Sebab seperti sudah disebutkan di muka, ada prinsip umum semantik
yang mengatakan apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun
perbedaannya hanya sedikit. Demikian
juga kata-kata yang bersinonim, karena bentuknya berbeda maka maknanya pun
tidak persisi sama. Jadi makna kata buruk
dan jelek tidak persisi sama. Menurut teori Verhaar yang sama tentu
adalah informasinya, padahal informasi
ini bukan makna karena informasi bersifat ekstralingual sedangkan makna
bersifat intralingual. Atau kalau kita mengikuti teori analisis komponen yang
sama adalah bagian atau unsur tertentu saja dari makna itu yang sama. Misalnya
kata mati dan meninggal. Kata mati nemiliki komponen makna
(1) tida bernyawa (2) dapat dikenakan terhadap apa saja ( manusia, binatang,
pohon, dsb). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna (1) tidak
bernyawa. (2) hanya dikenakan pada manusia. Maka dengan demikian kata mati
dan meninggal hanya bersinonim pada komponen makna (1) tidak
bernyawa.Kerena itu, jelas bagi kita kalau Ali, kucing, dan pohon
bisa mati; tetapi yang bisa meninggal hanya Ali. Sedangkan kucing
dan pohon tidak bisa. Ketidak mungkinan kita untuk menukar
sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim adalah banyak sebabnya. Antara
lain, karena; a. Faktor waktu.Misalnya kata hulubalang bersinonim dengan kata
komandan. Namun, keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang
hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan
hanya cocok untuk situasi masa kini (modern). b. Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata saya dan beta adalah
bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok untuk digunakan dalan konteks
pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku) ; sedangkan kata saya dapat
digunakan secara umum di mana saja. c. Faktor Sosial. Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah
kata yang bersinonim; tetapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman
sebaya yang tidak dapat digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang status
sosialnya lebih tinggi. d. Faktor bidang kegiatan. Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik
adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun kata tasawuf hanya lazim
dalam agama Islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; dan kata mistik
untuk semua agama. e. Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot,
meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat
memang bisa digunakan secara umum; tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan
sudut mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat dengan mata
terbuka lebar: kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat
jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk
melihat dari celah yang sempit. Dalam beberapa
buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa sinonim adalah persamaan kata atau
kata-kata yang sama maknanya. Pernyataan ini jelas kurang tepat sebab selain
yang sama bukan maknanya, yang bersinonim pun bukan hanya kata, tetapi juga
banyak terjadiantara satuan-satuan bahasa lainnya. Perhatikan contoh berikut! 1) Sinonim antar morfem (bebas) dengan morfem terikat, seperti antara dia
dengan nya, antara saya dengan ku dalam kalimat a) Minta
bantuan dia b) Minta
bantuannya c) Bukan teman saya d) Bukan temanku 2) Sinonim antar kata dengan kata seperti antara mati dengan meninggal:
antara buruk dengan jelek. 3) Sinoninm antara kata dengan frase atau sebaliknya. Misalnya antara meninggal
dengan tutup usia, antara hamil
dengan duduk perut. 4) Sinonim antara frase dengan frase. Misalnya, antara ayah ibu dengan orang
tua; antara meninggal dunia dengan pulang ke rahmatullah. 5) Sinonim antara kalimat dengan kalimat, seperti Adik menendang bola
dengan Bola ditendang adik. Kedua kalimat tersebut dianggap bersinonim,
yang pertama kalimat aktif dan yang kedua lalimat pasif. Mengenai
sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama tidak semuakata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya
kata beras, salju, batu dan kuning. Kedua ada kata-kata
yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya
kata benar bersinonim dengan kata betul; tetapi kata kebenaran
tidak bersinonim dengan kata kebetulan. Ketiga, ada kata-kata yang tidak
mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian.
Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada
sinonimnya, yaitu mengeringkan; dan berjemur bersinonim dengan berpanas.
Keempat ada kata-kata yang dalam arti “sebenarnya” tidak mempunyai sinonim,
tetapi dalam arti “kiasan” justru mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam
makna “sebenarnya” tidak ada sinonimnya, tetapi dalam arti “kiasan” ada
sinonimnya yaitu gelap, mesum, buruk, jahat dan tidak menentu.
2. Antonim
dan Oposisi a.
Antonim
Istilah antonimi (inggris: antonymy berasal dari
bahasa yunani kuno onama = nama, dan anti=melawan). Makna harfiahnya nama lain
untuk benda yang lain. menurut Verhaar (1983:133) mengatakan antonim adalah
ungkapan (biasanya kata, tetapi dapat juga frasa atau kalimat) yang dianggap
bermakna kebaikan dari ungkapan lain. secara mudah dappat dikatakan, antonim
adalah kata-kata yang maknanya berlawanan. Antonim atau antonimi adalah hubungan semantic antara
dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. Pertangan atau
kontras antara yang satu dengan yang lain. misalnya kata buruk berantonim
dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup, kata guru berantonim
dengan kata murid, dan kata membeli berantonim dengan kata menjual. Antonym
juga dapat diartikan kata-kata yang bentuknya sama tetapi artinya berbeda. Hubungan antara dua satuan ujaran yang berantonim juga
berhubungan dua arah. Jadi, kalau kata membeli berantonim dengan kata menjual
maka kata menjual berantonim dengan kata membeli. Perhatikan bagan berikut ini!
Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonym itu dapat
dibedakan atas beberapa jenis antara lain: 1)
Antonym
bersifat mutlak. Umpamanya kata berantonim secara mutlak dengan kata mati,
sesuatu yang hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya
sudah tidak hidup lagi. Contoh lain, kata diam berantonim secara mutlak dengan
kata bergerak, sebab sesuatu yang diam tentu tidak bergerak, dan sedang
bergerak tentunya tidak sedang diam. 2)
Antonym
yang bersifat relative atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan
kecilberantonim secara relative; juga antara kata jauh dan dekat, dan antara
gelap dan terang. Jenis antonym ini bersifat relative, karena batas antara satu
dengan lainnya tidak dapat ditemmukan secara jelas; batasnya itu dapat bergerak
menjadi lebih atau kurang. Karena itu sesuatu yang tidak besar belum tentu
kecil; dan sesuatu yang tidak dekat belum tentu jauh. Karena ini pula kita
dapat mengatakan misalnya, lebih dekat, sangat dekat, atau juga paling dekat.
Suatu objek dikatakan besar atau kecil dalam kehidupan kita adalah karena
diperbandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. 3)
Antonym
yang bersifat relasional. Umpamanya antara kata membeli dan menjual, antara
kata suami dan istrri, dan antara kata guru dan murid. Antonym ini disebut
relasional karena munculnya yang satu harus sisertai dengan yang lain.
misalnya, adanya membeli karena adanya menjual, adanya suami karena adanya
istri. 4)
Antonym
yang bersifat hierarkial. Umpamanya tamtama dan bintara berantonim secara
hierarkial; juga antara kata gram dan kilogram. Antonym ini disebut hiererkial
karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang
atau hierarkial. Di dalam bahasa Indonesia, mungkin juga terdapat dalam
bahasa lain, ada satuan ujarana yang memiliki pasangan antonym lebih dari satu.
Hal yang seperti ini lazim disebut antonym majemuk. Umpamanya dengan kata
berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, dapat berantonim dengan kata tidur,
dapat berantonim dengan kata tiarap, dapat berantonim kata bersila. Perhatikan
bagan berikut!
Ada baiknya diingat bahwa istilah antonimi sebaiknya
jangan dikacaukan dengan istilah antonomi. Istilah antonomi yang berasal dari
kata yunani nomos=hokum dan anti=melawan. Istilah antonomi bukan istilah dalam
bidang ilmu linguistic melainkan istilah yang digunakan di dalam bidang ilmu
lain antonimi adalah pertentangan antar dua hukum. Verhaar (1983:134)
membedakan antonim berdasarkan sistemnya sebagai berikut: a)
Antonim
antar kalimat, misalnya dia sakit dan dia tidak sakit. b)
Antonim
antar frasa, misalnya secara teratur dan secara tak teratur. c)
Antonim
antar kata, misalnya dalam bahasa ingggris terdapat kata thankful dan
thankless. b. Oposisi
Berdasarkan sifatnya, aposisi dapat dibedakan menjadi: 1) Oposisi Mutlak Di sini
terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya antara kata hidup dan
mati. Antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak,
sebab sesuatu yang hidup tentu tidak (belum) mati; sedangkan
sesuatu yang mati tentu sudah tidak hidup lagi. 2) Oposisi Kutub Makna kata-kata yang termasuk oposisi
kutub ini pertentangannya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi.
Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut, misalnya, kata kaya
dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan
antara kaya dan miskain tidak mutlak orang yang tidak kaya
belum tentu meras miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belum
tentu merasa kaya. Kata-kata yang beroposisi kutub ini
umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif, seperti jauh-dekat,
panjang-pendek, tinggi-rendah, terang-gelap, dan luas-sempit. 3) Oposisi Hubungan Makna kata yang beroposisi hubungan
(relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu
karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya
maka oposisi ini tidak ada. Umpamanya kata menjual beroposisi dengan
kata membeli. Kata menjual dan membeli walaupun maknanya
berlawanan, tetapi proses kejadiannya berlaku serempak.proses menjual
dan proses membeli terjadi pada waktu yang bersamaan, sehingga bisa
dikatakan tak akan ada proses menjual jika tak ada proses membeli. Kata-kata yang beroposisi hubungan ini
bisa berupa kata kerja seperti mundur-maju, pulang-pergi, pasang-surut,
memberi-menerima, belajar- mengajar, dan sebagainaya. Selain itu, bisa pula berupa kata benda, seperti ayah- ibu, guru-murid,
atas-bawah, utara-selatan, buruh-majikan, dan sebagainya. 4) Oposisi Hierarki Makna kata-kata yang beroposisi
hierarkial ini mengatakan suatu deret jenjeng atau tingkatan. Oleh karena itu
kata-kata yang beropossisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama
satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan,
nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Umpamanya kata meter beroposisi
hierarkial dengan kata kilometer karena berada dalam deretan nama satuan
yang menyatakan ukuran panjang. Kata kuintal dan ton beroposisi
secara hierarkial karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan
berat. 5) Oposisi Majemuk Selama ini yang dibicarakan adalah
oposisi diantara dua buah kata, seperti mati-hidup, menjual-membeli,
jauh-dekat, prajurit-opsir. Namun, dalam pembedaharaan kata Indonesia ada
kata-kata yang beroposisi terhadap lebih dari sebuah kata. Misalnya kata berdiri
bisa beroposisi dengan kata duduk, dengan kata berbaring, dengan
kata berjongkok. Keadaan seperti ini lazim disebut dengan kata istilah
oposisi majemuk. Jadi duduk, berbaring, berdiri atau tiarap, dan
berjongkok. Contoh lain, kata diam yang
dapat beroposisi dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja.
3. Homonim,
Homofoni, dan Homografi a.
Homonimi
Berasal dari kata homonimy: Bahasa Inggris, dan
homonim dari bahasa Yunani kuno yaitu kata”onoma” yang berarti nama dan kata homos yang berarti
sama. Jadi dengan kata lain mempunyai bentuk yang sama tetapi mempunyai arti
yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:132), “Homonimi merupakan kata yang sama lafal dan ejaan
tetapi beda makna”. Verhaar
(1983 : 135) mengatakan
bahwa homonimi adalah ungkapan (kata atau frasa atau
kalimat) yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan
perbedaan makna di antara kedua (bahkan dalam Bahasa Indonesia tulisannya sama, lafalnya sama) tetapi berbeda maknanya. Sedangkan Lyons (1981: 146) berpendapat bahwa homonymsare two different woeds which are written identically
and sound identical. (lihat juga Simpson, 1979:179, Jiri, 1969:50: Palmer
1976:67). Jadi dapat disimpulkan bahwa homonimi merupakan
kata-kata yang bentuknya
sama atau edintik, tetapi mengandung dua arti atau lebih yang berlainan. Secara
singkat homonim adalah kata yang sama ejaan atau lafalnya tetapi mempunyai arti
yang berbeda. Misalnya:
a)
kata
bisa berarti: racun ular, dapat,
mampu, bisa. b)
kata buku berarti: kitab, alat
tulis-menulis, batas antara dua ruas. Kiteria
yang bisa dipakai untuk menenukan homonim: a) Kita
dapat memakai kiteria makna. Kita harus meneliti dan membndingkan makna yang
dimiliki kata-kata tersebut apakah masih ada hubungan makna antara kata kata
itu. Jia masih ada berarti bentuk-bentuk tersebut bukan homonimi. b) Untuk
menlusuri hubungan antara makna itu kita membutuhkan pengetahua etimologi kata
kata yang diselidiki. Bagaimanakah sejarah timbulnya kata-kata itu. Apakah
berasal dari kata yang sama atau tidak. Sebab, banyak kemungkinannya kata-kata
yang digolongkan kepada bentuk bentuk homonimi sebenarnya adalah bentuk
polisemi. Hal ini c) dapat terjadi justru ka justru
karena kekurangan pengetahuan kita terhadap etimologi kata-kata tersebut.
Sebagai contoh dibawah ini dicantumkan beberapa kata yang bersifat homonimi : a. Kata
kali yang berarti untuk menyatakan pergandaan atau perbanyakan. b. Kali
yang berarti sungai. Disamping pada morfem tunggal (kata
dasar) homonim terdapat juga pada kata jadian sebagai akibat ejaan yang
bersifat homograf. Misalnya” mengukur”
(kata dasar ukur)dan mengukur (kata dasar kukur) ‘beribu” (kata dasar ribu) “beruang”
(kata dasar uang) . c. Homograf Homograf adalah hubungan antara
kata-kata yang berbeda makna tetapi sama tulisannya. Misalnya kata tahu yang
berarti paham dan kata tahu yang berarti makanan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:146),
“Homograf dapat diartikan sebagai kata yang sama ejaannya dengan kata lain
tetapi berbeda lafal dan maknanya seperti kata teras yang berarti inti kayu dan
teras yang berarti bagian depan rumah”. Misalnya: 1) Kata Teras yang berarti serambi depan rumah. 2) Kata Apel yang berarti berkumpul untuk
melaksanakan upacara. 3) Kata
Apel yang berarti nama buah-buahan. d. Homofoni Homofoni merupakan hubungan antara
kata-kata yang berbeda makna tapi sama lafalnya, contoh kata Bang
dengan Bank dan
pada kata tang yang berarti penjepit dan kata tank yang berarti kendaraan berat
(tangki).
4. Hiponimi
dan Hipernimi Kata hiponimi
berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti
“di bawah’. Jadi secara harfiah berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama
lain’. Secara semantik, Verhaar (1978: 137) menyatakan bahwa hiponim adalah ungkapan (biasanya berupa kata,
tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan
bagian dari makna statu ungkapan lain. Kalau relasi
antara dua buah kata yang bersinonim, berantonim, dan berhomonim bersifat dua
arah, maka relasi anatar dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas
atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya.
Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap
sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial
berada di atasnya. Konsep hiponimi dan hipernimi mudah diterapkan pada kata
benda tapi agak sukar pada kata verja atau kata sifat.
5. Polisemi Polisemi berasal dari kata “Poly”
mempunyai arti banyak, sedangkan “semi” mempunyai arti tanda. Jadi, Polisemi
adalah kata yang mempunyai arti ganda baik arti leksikal maupun arti
gramatikal. Makna dalam polisemi ini akibat perkembangan bahasa dan lingkungan
medan makna yang bisa mengalami perubahan bentuk yang semakin luas, dengan kata
lain makna itu mengalami perrluasan. Palmer (1976:65) mengatakan, “it is also the case that the same word may have
a set of different meanings”, suatu kata yang mengandung seperangkat makna
yang berbeda, mengandung makna ganda. Polisemi juga dapat diartikan sebuah
kata atau satuan ujaran dan kata tersebut mempunyai makana lebih dari satu.
Menurut kamus Linguistik Polisemi yaitu pemakaian bentuk bahasa seperti kata,
frase dan sebagainya dengan makna yang berbeda-beda. Dapat ditarik kesimpulan, polisemi
adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Karena kegandaan
makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna
kata yang didengar atau dibacanya. Proses timbulnya arti polisemi
disebabkan sebagai berikut: a. Akibat
pemakaian khusus: misalnya kata “bedah” mengandung arti leksikal : rusak,
besar, sobek dan sebagainya. Bila kata bedah dipakai dalam ilmu kedokteran
mengandung arti operasi (cara menyembuhkan penyakit) baik dengan jalan
memotong, mengiris, menjahit dan sebagainya. b. Akibat
pemakaian dalam kiasan : misalnya “ kata
membanting” mengandung arti leksikal: menggoncangkan ke bawah dengan keras.
Tapi dalam hal ini timbul kiasan, 1) Membanting
tulang : Membanting harga,
membanting stir. 2) Membanting
tulang : Mempunyai arti bekerja
keras. 3) Membanting
harga : Mempunyai arti
menurunkan atau menaikkan harga. 4) Membanting
stir :
Mempunyai arti bekerja sebagai sopir. Arti ini akan jelas apabila kita
memperhatikan kata-kata sekitarnya. c. Akibat
pengambilan kata lama dalam bentuk kata baru, misalnya “kata pendeta” dan
“Sarjana” arti leksikalnya orang yang pandai. Tapi sekarang pendeta merupakan
sebutan kepada guru agama Kristen, begitu juga kata sarjana merrupakan title
dari lulusan perguruan tinggi. d. Akibat
pengaruh nilai rasa dan asosiasi, misalnya kata “sampah” arti leksikalnya mempunyai
arti berkas-bekas dari kotoran. Tapi sekarang sampah mempunyai arti luas yaitu
penjahat, perusak, jambret dan lain-lain. Sebab-sebab terjadinya Polisemi 1) Kecepatan
melafalkan kata, misalnya kata ban tuan dan bantuan. Apakah ban kepunyaan tuan,
atau bantuan? 2) Faktor
Gramatikal, misalnya kata Orangtua dapat bermakna ayah/ibu, atau orang yang
sudah tua. 3) Faktor
leksikal, sebuah kata yang mengalami perubahan pemakaian dalam ujaran yang
mengakibatkan munculnya makna baru. Misalnya kata makan yang biasa dihubungkan
dengan kegiatan manusia atau binatang, memasukan sesuatu ke dalam perut, tetapi
kini kata makan dapat digunakan pada benda tak bernyawa sehingga muncullah
urutan, pagar makan tanaman, dimakan api, dan yang lainnya. Contoh lain pada
kata operasi, bagi seorang dokter dihubungkan dengan pekerjaan membedah bagian
tubuh untuk menyelamatkan nyawa. Sedangkan bagi militer dikaitkan dengan
kegiatan untuk melumpuhkan musuh atau memberantas kejahatan. 4) Faktor
pengaruh bahasa asing, misalnya kata rencana untuk menggunakan kata planning. 5) Faktor
pemakai bahasa yang ingin menghemat penggunaan kata. Maksudnya dengan satu
kata, pemakai bahasa dapat mengungkapkan berbagai ide atau perasaan yang
terkandung didalam hatinya. Misalnya ada kata mesin yang biasanya dihubungkan
dengan mesin jahit. Manusia membutuhkan kata yang mengacu kepada mesin yang
menjalankan pesawat terbang, mobil, motor, maka muncullah urutan kata mesin
pesawat terbang, mesin mobil. 6) Faktor
pada bahasa itu sendiri yang terbuka untuk menerima perubahan, baik perubahan
bentuk maupun perubahan makna. 6. Ambiguitas Menurut kamus linguistic ambiguitas (ambiguity) yaitu
sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu tafsiran. Ambiguitas timbul
dalam berbagai variasi ujaran atau bahasa tertulis. Kalau kita mendengarkan
ujaran seseorang atau membaca sebuah tulisan, kadang-kadang kita sulit memahami
apa yang diujarkan atau yang kit abaca. Misalnya kalau kita membaca atau
mendengarkan ujaran orang, kita tidak memahami apa yang dimaksud dengan kata
orang itu. Bermacam-macam tafsiran kita, misalnya apakah orang Gorontalo,
apakah orang yang sedang mengalami kekuatan karena melihat orang, apakah orang
yang sedang menjawab pertanyaan polisi lalu lintas karena salah jalan. Jadi Ambiguitas adalah gejala dapat terjadinya
kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal
yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis
unsure suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya “Anak
istri kapten cantik.” Kita bingung, apakah yang dimaksud dengan ujaran ini?
Apakah anak dan istri kapten yang cantik? Apakah anak, istri dan kapten
semuanya cantik? Semuanya masih merupakan tanda Tanya pada kita. Keraguan,
kebingungan mengambil keputusan tentang makna, dan keanekaan tafsiran makna
seperti ini. Itulah yang disebut ambiguitas. Dengan kata lain, sifat konstruksi
yang dapat diberi lebih dari satu tafsiran.
a.
Jenis
Ambiguitas 1)
Ambiguitas
Tingkat Fonetik Ambiguitas pada tingkat fonetik timbul akibat
membarunya bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan. Kadang-kadang karena kata-kata
yang membentuk kalimat diujarkan secara cepat, orang menjadi ragu-ragu tentang
makna kalimat yang diujarkan. Misalnya ada ujaran /membeli kantin/. Apakah yang
dimaksud adalah membelikan Tin, atau membeli kanti?. Contoh lain yaitu dlam
kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita mendengar ujaran bakmi. Apakah yang
dimaksud adalah sejenis makanan yang disebut bakmi ataukah bak mi panggilan
kepada seseorang. Untuk menghindarkan ambiguitas seperti ini, orang
harus bertanya lagi kepada pembicara, dan memang inilah sikap yang sebaiknya
dilaksanakan. 2)
Ambiguitas
Tingkat Gramatikal Ambiguitas ini biasanya muncul pada satuan kebahasaan
yang disebut kalimat atau kelompok kata. Dengan demikian ambiguitas pada
tingkat gramatikal dapat dilihat dari 3 segi. a)
Ambiguitas
yang disebabkan oleh peristiwa pembentukan kata secara gramatikal. Di dalam
bahasa Inggris misalnya ada awalan dan akhiran yang dapat menimbulkan makna ganda,
bahkan kadang-kadang membingungkan. Misalnya akhiran –able dalam bahasa inggris
tidak selamanya mengandung makna yang sama seperti pada bentuk-bentuk
desirable, readable, eatable, knowable, debatable, sebab bentuk desirable dan
readable tergolong kelas adjektiva, sedangkan eatable, knowable, dan debatable
kebetulan hanya formatnya yang sama. b)
Ambiguitas
pada frasa yang mirip yang dikatkan Ullmann (1972:1958) equivocal pharsing,
atau amphiboly (dari bahasa yunani amphi yang bermakna keuda sisi, dan ballein
yang bermakna kain tutup). Tiap kata yang membentuk frasa, sebenarnya jelas
tetapi kombinasinya dapat ditafsirkan lebih dari satu pengertian. Misalnya
kalimat “ I meet a number of old friends and acquaintance,” saya bertemu dengan
sejumlah temanlama dan kenalan. Kata old (lama atau tua) dalam kalimat ini
dapat dihubungkan dengan friends (teman-teman) dan mana yang dimaksud dengan
kata lama, apakah teman-teman ataukah kenalan-kenalan? Untuk menghindarkan
ambiguitas seperti ini, perlu dilihat dari konteks atau unsur suprasegmental
yang menyertainya. c)
Ambiguitas
yang muncul dalam konteks, apakah konteks orang atau konteks situasi. Misalnya
kalimat minor “pergi!” apakah maksud kalimat ini? Orang bertanya : pergi
kemana, dengan siapa pergi, pukul berapa pergi, menapa pergi, untuk apa pergti?
Untuk menghindarkan ambiguitas pada konteks, orang harus mengetahui betul pada
konteks apa seorang berbicara?. 3)
Ambiguitas
Leksikal Telah dijelaskan bahwa setiap kata dapat saja
mengandung lebih dari satu makna (Lyons I, 1977:38). Dapat saja sebuah kata
mengacu pada sesuatu yang berbeda sesuai dengan lingkungan pemakaiannya.
Misalnya orang mengujarkan bang yang mungkin mengacu kepada abang atau mengacu
pada bank. Bentuk seperti ini disebut Polivalensi (polyvalency)
yang dapat dilihat dari dua segi. a)
Dikatakan
oleh Breal (Ullmann, 1972:159) polisemi. Misalnya dalam BI kata mudah sebagai
adjektiva yang bermakna, tidak memerlukan banyak tenaga atau pikiran dalam
mengerjakannya, tidak sukar, tidak berat, soal ujian itu mudah. b)
Kata-kata
yang sama bunyinya tetapi maknanya berbeda. Misalnya dalam BI terdapat kata
barang yang maknanya berbeda, seperti terlihat dalam kalimat, (i) banyak barang
diturunkan dipelabuhan; (ii) berilah saya barang 1.000 rupiah. Makna barang
pada kalimat pertama yakni benda yang diperdagangkan, sedangkan makna yang
kedua, yakni sejumlah, sebanyak. Ambiguitas juga mempunyai arti gejala dapat terjadinya
kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal
yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis
unsure suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya, /buku
sejarah baru/ dapat ditafsirkan maknanya menjadi: i.
Buku
sejarah itu baru terbit ii.
Buku
itu memuat sejarah zaman baru. Kemungkinan makna 1 dan 2 itu terjadi karena kata baru
yang ada dalam konstruksi itu, dapat dianggap menerangkan frase buku sejarah,
dapat juga dianggap hanya menerangkan kata sejarah.
Contoh lain pada ujaran anak
dosen yang nakal juga bermakna ganda. Maknanya mungkin (1) anak itu yang nakal,
(2) dosen itu yang nakal. Kedua makna itu karena tafsiran gramatikalnya tidak
sama.
7. Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan
sebagai “berlebih-lebihan pemekaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujar”.
Umpamanya kalimat Bola ditendang si Udin, maknanya tidak akan berubah bila
dikatakan bola ditendang oleh oleh si Udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi,
yang berlebih-lebihan, dan yang sebenarnya tidak perlu. Secara semantik masalah redundansi
sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah bila
bentuk berbeda maka maknanya pun akan berbeda. Selain itu, contoh yang lainnya
seperti pada kalimat; ibu membuat kue, maknanya tidak akan berubah bila
dikatakan kue dibuat oleh ibu. Pemakaian kata oleh pada kalimat yang kedua
dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Contoh
lain; petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan
petani sedang mencangkul kebunnya. Pemakaian kata sedang pada kalimat yang
kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu.
Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran, sedangkan informasi adalah
sesuatu yang di luar ujaran. Jadi yang sama antara kalimat pertama dan kalimat
kedua di atas bukan maknanya melainkan informasi.
B.
Simpulan
dan Saran Relasi makna adalah hubungan
kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau
satuan bahasa lainnya. Makna adalah
sesuatu yang fononema dalam ujaran, sedangkan informasi adalah sesuatu yang di luar
ujaran. Dalam mempelajari bahasa, seringkali timbul adanya hubungan kemaknaan
atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata
atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin
menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan
makna (polisemi dan ambiguitas), ketercangkupan makna (hiponimi), kelainan
makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Hubungan
kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau
satuan bahasa lainnya itu sering disebut dengan relasi makna. Saran ini ditujukan
untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa pada jurusan kebahasaan
terutama bahasa Indonesia. Agar menjadi sumber informasi yang bermanfaat.
C.
Daftar
Pustaka Annur, Saperiah. (2013). Semantik Bahasa Indonesia. [online] [tersedia]
: http://nadiasidia.blogspot.com/2013/05/semantik-bahasa-indonesia-relasi-makna.html.
[ 3 Oktober 2014].
Chaer,
Abdul. (2003). Linguistik Umum.
Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul. (2006). Telaah Semantik. Jakarta: Rineka Cipta.
Falah, M. Zainal. (1996). Tatabahasa Indonesia. Yogyakarta: CV. Karyono.
Kridalaksana,
Harimukti. (2001). Kamus Linguistik.
Jakarta: PT Gramedia. Pateda, Mansoer. (2001). Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta. Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Samsul. (2013). Relasi
makna. [online] [tersedia]
: http://samsulpenulismuda.blogspot.com/2013/03/relasi-makna-homonimi-homofoni-homografi.html.
[ 3 Oktober 2014].
Ullman, Stephen. (2011). Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wahyu, Lizna. (2012). Bilingualisme dan Diglosia. [online] [tersedia]:
http://liznawahyu.blogspot.com/2012/12/bilingualisme-dan-diglosia.html. [17
September 2014].
|
|
|
|||||||||||||||

Comments
Post a Comment